Kalau dengar kata Papua, banyak orang langsung kebayang Raja Ampat atau pegunungan tinggi yang dramatis. Padahal, ada satu kawasan yang lagi pelan-pelan naik daun: wisata Sorong Selatan, negeri 1001 sungai.
Dari obrolan santai Bupati Sorong Selatan, Petronela Krenak, di Podcast Nusaraya Kompas.com, kelihatan banget kalau daerah ini punya potensi alam yang underrated abis. Sungai bening, hutan masih lebat, plus biaya perjalanan yang katanya lebih ramah kantong dibanding destinasi tetangga yang sudah lebih dulu ngetop.
Buat kamu yang lagi cari referensi tempat baru di Papua Barat Daya, Sorong Selatan ini bisa jadi kandidat serius. Apalagi kalau kamu tipe yang suka suasana tenang, air jernih, dan nggak masalah sama destinasi yang masih berkembang.
Kenapa Julukan Negeri 1001 Sungai Itu Nggak Lebay?
Julukan negeri 1001 sungai di Sorong Selatan bukan sekadar slogan manis. Menurut cerita Bupati Petronela, sebutan ini sudah dikenal sejak sekitar tahun 2010. Hampir di setiap wilayah kabupaten ini, ada aliran sungai yang motong hutan dan pegunungan.
Yang bikin beda, air sungainya jernih banget, sampai digambarkan sebening kaca. Jadi, bukan cuma banyak, tapi kualitas alamnya juga masih terjaga. Dari cerita beliau, sungai di sini sejuk, bening, dan suasananya masih terasa perawan.
Selama ini, mungkin yang agak sering seliweran di media cuma Sungai Klaogin. Namun, ternyata ada banyak nama lain yang diam-diam punya potensi wisata. Di antaranya Sembra, Kali Kohoin, Sesor, Waigo, sampai sungai-sungai di Kampung Wehali dan wilayah Sawiat yang letaknya di pegunungan.
Kalau dipikir-pikir, ini semacam surga buat kamu yang suka eksplor air tawar. Dengan memahami gambaran ini, kebayang kan betapa luasnya peluang pengembangan wisata Sorong Selatan ke depan.
Sungai Sefrok sampai Klaogin: Calon Spot Chill Buat Pencinta Alam
Di antara banyaknya sungai di Sorong Selatan, ada satu nama yang cukup menonjol di cerita Bupati: Sungai Sefrok. Lokasinya di kawasan pegunungan, dengan aliran air yang keluar dari kaki gunung. Dari cara beliau cerita, Sefrok ini kayak hidden gem beneran.
Beliau bahkan bilang, Sefrok lebih bagus dari semua sungai lain di Sorong Selatan. Namun di sisi lain, tempat ini justru perlu dijaga ketat supaya alamnya nggak rusak. Jadi, kalau nanti makin banyak yang datang, tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara wisata dan kelestarian.
Selain Sefrok, ada juga Sungai Klaogin yang mungkin udah pernah kamu lihat fotonya berseliweran di media sosial atau liputan media. Lalu, ada sungai-sungai lain seperti Sembra, Kali Kohoin, Sesor, Waigo, dan aliran di Kampung Wehali serta Sawiat. Nama-nama ini mungkin belum familiar sekarang, tapi potensinya lumayan buat dikembangkan sebagai spot chill.
Menariknya, menurut Bupati, akses jalan ke sungai-sungai ini sudah ada dan lagi terus ditingkatkan kualitasnya. Artinya, secara bertahap, perjalanan ke lokasi-lokasi ini akan makin lancar. Mungkin sekarang belum sepraktis destinasi mainstream, tapi justru di situlah sensasi jelajahnya.
Namun, karena infrastruktur lagi dalam proses perbaikan, kamu perlu siap dengan kondisi yang belum serba ideal. Jadi, mindset-nya jangan seperti pergi ke tempat wisata yang sudah matang banget, tapi lebih ke ekspedisi santai ke daerah yang lagi bertumbuh.
Murah dari Sisi Cost, Tapi Manfaatnya Bisa Besar Buat Warga
Salah satu poin menarik yang disampaikan Bupati Petronela adalah soal biaya perjalanan. Menurut dia, kalau dibandingkan dengan Raja Ampat, wisata Sorong Selatan menawarkan cost yang lebih murah. Ini kabar bagus buat traveler yang pengin ke Papua tapi lagi mikir budget.
Namun, di sisi lain, pengembangan wisata di sini nggak cuma soal murah buat wisatawan. Pemerintah kabupaten lagi giat berkomunikasi dengan kementerian dan lembaga pusat, khususnya Kementerian Pariwisata, buat promosi dan pengelolaan yang lebih serius. Tujuannya supaya manfaat wisata bisa dirasain sampai ke masyarakat sekitar sungai.
Kalau pengelolaan sungai sebagai destinasi berjalan solid, pendapatan asli daerah bisa naik. Lebih dari itu, warga di sekitar sungai bisa ikut terlibat, entah lewat jasa pemandu, warung makan, penginapan sederhana, atau produk lokal. Dengan begitu, geliat ekonomi lokal ikut hidup, bukan cuma ramai sesaat.
Ternyata, Bupati juga punya mimpi yang cukup berani: suatu saat, jumlah wisatawan yang ke Sorong Selatan bisa lebih banyak dari yang ke Raja Ampat. Ambisi ini kedengarannya besar, tapi masuk akal kalau lihat potensi alam yang masih perawan dan ruang pengembangan yang luas.
Pada akhirnya, semua kembali ke cara kita datang sebagai tamu. Kalau pengunjung bisa jaga kebersihan, hormat sama adat dan ruang hidup warga, dan ngasih feedback yang sehat ke pengelola, arah wisata Sorong Selatan bisa ke jalur yang lebih berkelanjutan. Alamnya tetap bening, warganya dapat manfaat nyata.
Jadi, buat kamu yang mulai melirik negeri 1001 sungai ini sebagai tujuan trip selanjutnya, coba posisikan diri bukan cuma sebagai turis, tapi juga sebagai tamu yang ikut support tumbuhnya destinasi baru. Kalau suatu saat ke Papua Barat Daya, memasukkan wisata Sorong Selatan ke itinerary bakal worth it lah, terutama kalau kamu suka sungai dan suasana alami.
Pantau info resmi dari pengelola atau dinas setempat sebelum berkunjung.