Pernah kepikiran jalan-jalan wisata Imlek ke klenteng bersejarah di Jakarta, bukan cuma buat foto merah-merah, tapi juga buat ngulik cerita di baliknya?
Buat kamu yang lagi cari alternatif healing tipis-tipis di Jakarta saat Imlek, klenteng tua bisa jadi opsi yang lumayan underrated. Suasananya khas, penuh simbol, tapi juga dekat banget sama sejarah kota dan cerita toleransi antarwarga.
Nah, dari banyak klenteng di ibu kota, ada dua nama yang sering jadi rujukan kalau ngomongin sejarah awal komunitas Tionghoa di Batavia: Kim Tek Ie di Glodok dan Klenteng Ancol di pesisir utara.
Kim Tek Ie Glodok: Titik Awal Istilah “Klenteng” di Indonesia
Kalau kamu main ke kawasan Petak Sembilan, Glodok, rasanya sayang banget kalau nggak sekalian mampir ke Kim Tek Ie. Klenteng ini juga dikenal sebagai Vihara Dharma Bhakti dan banyak yang menyebutnya sebagai klenteng tertua di Jakarta.
Secara lokasi, dia ada di Jl. Kemenangan III No. 13, Petak Sembilan, Jakarta Barat. Jadi secara akses, ya lumayan strategis buat kamu yang biasa eksplor kuliner dan gang-gang sempit Glodok. Dari suasananya saja, kamu sudah bisa ngerasain kombinasi antara ruang ibadah dan ruang hidup warga sekitar.
Klenteng ini dibangun sekitar tahun 1650 oleh Kwee Hoen, seorang Letnan Tionghoa. Menariknya, nama awalnya adalah Kwan Im Teng, yang merujuk pada tempat pemujaan Dewi Kwan Im. Dari sebutan “teng” inilah, banyak yang kemudian menghubungkan asal-usul istilah “klenteng” yang kita pakai sekarang.
Nama Kim Tek Ie sendiri punya makna “kebajikan emas”. Ini semacam pengingat halus bahwa nilai kebajikan harusnya lebih berharga daripada urusan material. Jadi, selain sebagai tempat sembahyang, ruang ini juga membawa pesan hidup yang cukup relevan buat siapa saja, termasuk kita yang cuma mampir sebagai pengunjung.
Di dalamnya, Kim Tek Ie menyimpan berbagai artefak sejarah, termasuk patung-patung Buddha kuno. Namun, sebagai pengunjung, penting banget buat jaga sikap. Misalnya, tetap tenang, nggak sentuh benda-benda sembahyang sembarangan, dan hindari foto berlebihan di area yang lagi dipakai ibadah.
Saat Tahun Baru Imlek, Kim Tek Ie biasanya jadi salah satu pusat kegiatan warga Tionghoa di sekitarnya. Suasananya jauh lebih ramai, ada aroma dupa yang kuat, dan aliran orang yang keluar-masuk untuk berdoa. Di sisi lain, ini juga bikin area sekitar makin hidup dengan pedagang dan warga yang saling sapa.
Dengan memahami latar sejarahnya, kamu bisa lihat klenteng ini bukan cuma spot foto Instagramable. Kim Tek Ie adalah saksi panjang perjalanan komunitas Tionghoa di Jakarta, dari masa perdagangan, konflik, sampai upaya menjaga harmoni dengan warga lain.
Klenteng Ancol: Jejak Doa Pelaut di Pesisir Jakarta
Kalau Glodok identik dengan gang sempit dan ruko tua, Klenteng Ancol atau Vihara Bahtera Bakti punya vibe yang beda banget. Dia berada di kawasan Jakarta Utara, sekitar 200 meter dari tepi laut, dan posisinya di luar area Taman Impian Jaya Ancol.
Dari cerita yang beredar, klenteng ini dulu dikenal dengan nama Da Bo Gong. Sosok ini adalah Dewa Air yang dipuja para pelaut sejak masa Dinasti Song untuk memohon keselamatan pelayaran. Jadi, nuansa maritimnya cukup kental, meski sekarang area sekitarnya sudah lebih urban.
Namun, karena bentuk rupanya, banyak orang kemudian menganggapnya sebagai Dewa Bumi. Pergeseran cara melihat sosok ini juga menunjukkan bagaimana kepercayaan bisa beradaptasi dengan konteks lokal. Di sini, kita bisa lihat interaksi antara tradisi Tionghoa dengan cara baca masyarakat di sekitarnya.
Klenteng Bahtera Bakti ini juga diperkirakan dibangun sekitar tahun 1650, berdekatan waktunya dengan Klenteng Jin De Yuan. Jadi, kalau ditarik garis waktu, keberadaannya sudah melewati ratusan tahun perubahan Jakarta, dari pelabuhan ramai kapal kayu sampai jadi kota megapolitan.
Sebagai tempat ibadah, Klenteng Ancol tetap punya aturan tak tertulis yang sebaiknya kamu hormati. Misalnya, berpakaian sopan, jaga volume suara, dan perhatikan area mana yang boleh dilintasi pengunjung. Di sisi lain, kamu juga bisa lebih peka dengan suasana: dengar bunyi doa, bau dupa, dan cara orang lokal berinteraksi di sana.
Buat yang senang foto suasana, coba alih fokus dari pose sendiri ke detail-detail kecil. Misalnya, bentuk atap, ornamen naga, warna cat yang mungkin sudah memudar, atau lilin-lilin besar yang terbakar pelan. Dengan begitu, pengalamanmu jadi lebih reflektif, bukan sekadar jalan-jalan lalu lupa.
Pada akhirnya, Klenteng Ancol bisa kamu lihat sebagai pintu kecil untuk memahami hubungan Jakarta dengan laut dan para pendatang. Ternyata, jauh sebelum kota ini penuh gedung tinggi, sudah ada jejak orang-orang yang menggantungkan harapan mereka pada dewa pelindung air dan perjalanan.
Cara Menikmati Wisata Imlek ke Klenteng Tanpa Ganggu Ibadah
Walaupun sumber informasi kita terbatas, ada beberapa sikap umum yang bisa kamu pegang biar wisata Imlek ke klenteng bersejarah di Jakarta tetap nyaman buat semua orang. Pertama, coba datang dengan niat belajar, bukan cuma konsumsi visual. Dengan memahami klenteng sebagai ruang sakral, gerak-gerikmu otomatis jadi lebih hati-hati.
Kedua, saat ingin ambil foto, lihat dulu situasinya. Jika banyak orang sedang khusyuk sembahyang, sebaiknya tahan dulu. Di sisi lain, kamu bisa cari sudut yang lebih sepi, atau foto detail-detail bangunan tanpa menyorot wajah orang yang sedang berdoa.
Ketiga, jangan ragu untuk tanya pelan ke pengurus atau umat yang sedang tidak sibuk jika kamu bingung soal area mana yang boleh dimasuki. Biasanya mereka cukup terbuka selama kita sopan dan nggak memaksa. Dengan begitu, interaksi yang terjadi bisa jadi momen kecil toleransi dua arah.
Terakhir, ingat bahwa wisata Imlek ke klenteng bersejarah di Jakarta bisa jadi cara santai belajar toleransi, selama kita datang dengan rasa hormat. Kim Tek Ie di Glodok dan Klenteng Ancol di pesisir Jakarta Utara cuma dua contoh, tapi dari sini kamu sudah bisa melihat lapisan-lapisan sejarah yang sering luput dari obrolan sehari-hari.
Pantau info resmi dari pengelola atau dinas setempat sebelum berkunjung.