Di tengah malam Banyuwangi yang lembap dan agak berangin, warna merah terang dari Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi langsung ngejreng di antara lampu-lampu kota.
Asap dupa pelan-pelan naik, bercampur suara tambur barongsai dan obrolan santai warga yang duduk di trotoar.
Buat aku, suasana ini kerasa banget kayak percampuran antara wisata, ibadah, dan nongkrong di pusat kota.
Di sinilah perayaan HUT ke-242 klenteng tua ini jadi momen spesial yang sayang dilewatin kalau kamu lagi main ke ujung timur Jawa.
HUT Klenteng Hoo Tong Bio: Tradisi Tua yang Berasa Dekat
Pertama, kenalan dulu sama tempatnya.
Klenteng Hoo Tong Bio ini salah satu kelenteng tertua di Jawa Timur dan Bali, statusnya juga bangunan cagar budaya.
Lokasinya di pusat kota Banyuwangi, jadi gampang banget kebayang sebagai salah satu titik ramai buat warga dan wisatawan.
Begitu masuk, dominasi warna merah dan ornamen naga langsung bikin mata sibuk.
Kalau biasanya banyak orang bayangin kelenteng itu suasananya tertutup dan serius, di sini kerasa beda.
Memang sakral, apalagi dengan kehadiran Yang Mulia Kongco Tan Hu Cin Jin sebagai pusat penghormatan umat Tri Dharma.
Tapi di sisi lain, nuansanya masih hangat dan cukup ramah buat pengunjung umum yang cuma mau lihat-lihat.
Jadi, kamu yang datang sebagai wisatawan tetap bisa menikmati, asal tahu diri dan jaga sikap.
Menurut Ketua TITD Hoo Tong Bio, Sylvia Ekawati, klenteng ini diharap tetap jadi rumah yang teduh buat umat.
Sekaligus tempat pelestarian tradisi dan wadah buat menebar kebajikan di tengah masyarakat Banyuwangi.
Kalimat ini kerasa banget di lapangan, karena yang datang bukan cuma umat Tri Dharma, tapi juga warga sekitar dan wisatawan yang penasaran.
Dengan memahami posisi klenteng sebagai ruang ibadah dan ruang sosial, kita jadi lebih peka saat datang.
Perayaan HUT tahun ini digelar Sabtu malam, tanggal 18 April 2026.
Malam hari bikin suasana makin dramatis karena permainan lampu dan lilin di altar terlihat jelas.
Sekaligus bikin hawa visualnya kuat banget buat kamu yang suka foto suasana malam kota.
Namun, yang bikin perayaan ini beda bukan cuma lampu atau dekorasinya.
Tradisi Euni Kimsin dan Barongsai: Magnet Wisata Religi Banyuwangi
Tahun ini, HUT Klenteng Hoo Tong Bio tampil beda dengan tradisi euni kimsin yang jarang banget bisa kamu lihat.
Secara sederhana, euni kimsin ini momen ketika kelenteng-kelenteng lain membawa rupang, atau patung dewa-dewi, ke satu kelenteng untuk diletakkan di altar utama.
Di Banyuwangi, delapan kelenteng dari berbagai wilayah Indonesia, dari Jawa Tengah sampai NTB, ikut datang dan berkumpul.
Ternyata, ini bukan hal yang tiap tahun terjadi di mana-mana, jadi wajar kalau atmosfernya berasa spesial.
Bayangin satu altar utama yang biasanya sudah megah, sekarang berderet penuh dengan rupang dewa-dewi dari berbagai kelenteng.
Pemandangan ini bikin altar jadi kelihatan luar biasa ramai dan anggun sekaligus.
Buat umat, momen ini jelas punya makna spiritual yang dalam.
Tapi buat wisatawan yang datang dengan rasa hormat, ini juga jadi pengalaman visual yang kuat dan memorable.
Di sisi lain, ada juga atraksi barongsai yang memang sudah identik dengan kemeriahan HUT Klenteng Hoo Tong Bio.
Gerakan lincah barongsai diiringi suara tambur dan simbal yang kencang jadi magnet buat orang-orang yang lewat.
Anak kecil, remaja, sampai orang tua banyak yang berhenti sebentar buat nonton.
Dengan suasana seperti ini, perayaan terasa sebagai ruang pertemuan antara budaya Tionghoa dan kehidupan sehari-hari warga Banyuwangi.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, juga hadir di acara ini.
Di hadapan umat Tri Dharma dan warga, ia mengingatkan kalau nilai paling utama dari perayaan seperti ini adalah harmoni.
Menurutnya, dalam perbedaan keyakinan dan budaya, yang harus dijaga adalah keharmonisan antarwarga.
Pada akhirnya, pesan ini yang bikin acara HUT klenteng bukan cuma seru, tapi juga relevan buat kehidupan sosial Banyuwangi.
Dengan kehadiran pemerintah daerah, kegiatan ini juga terlihat didukung sebagai bagian dari wisata budaya kota.
Namun, tetap kerasa kalau pusatnya adalah ritual keagamaan umat.
Sebagai pengunjung, kita lumayan diingatkan buat nggak terlalu menjadikan semuanya sekadar tontonan.
Tetap ada batas antara ritual yang harus dihormati dan bagian acara yang memang dibuka buat umum.
Kalau kamu suka wisata religi dan budaya, HUT Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi ini layak masuk daftar.
Selain bisa lihat tradisi euni kimsin yang langka, kamu juga bisa merasakan bagaimana sebuah klenteng tua jadi titik kumpul beragam komunitas.
Kota Banyuwangi yang dikenal sebagai The Sunrise of Java terasa makin berwarna ketika malam perayaan seperti ini digelar.
Cek jam operasional dan harga terbaru agar rencana tetap lancar.