“Ini bukan cuma wisata, ini jati diri urang Banjar,” kurang lebih begitu pesan yang disampaikan Wali Kota Banjarmasin saat Pasar Terapung TMII diresmikan. Buat banyak warga Banjar, sungai itu bukan sekadar latar foto, tapi ruang hidup sehari-hari.
Sekarang, buat kamu yang tinggal di Jabodetabek dan belum sempat ke Banjarmasin, suasana itu bisa dicicip sedikit di Dermaga Pasar Terapung TMII, Jakarta Timur. Jadi bukan cuma lihat dari foto atau film, tapi bisa ngerasain langsung vibe-nya di lapangan.
Pasar Terapung TMII: Jembatan Rasa Banjar di Ibukota
Pasar terapung ini dihadirkan di TMII sebagai cara menghadirkan budaya sungai khas Kalimantan Selatan ke level nasional. Peresmiannya dilakukan Sabtu, 11 April 2026, dan sejak itu jadi salah satu spot yang makin dilirik pengunjung. Lokasinya di area dermaga, jadi nuansanya memang sengaja dibuat dekat dengan air.
Menurut penjelasan pejabat daerah Kalimantan Selatan, pasar terapung adalah identitas kuat masyarakat Banjar. Tradisi ini tumbuh dari kehidupan warga yang tinggal di sepanjang Sungai Martapura, termasuk Pasar Terapung Kuin di Banjarmasin dan Pasar Terapung Lok Baintan di Kabupaten Banjar. Di sana, perahu dan sungai adalah ruang transaksi, ngobrol, sampai tukar cerita.
Nah, di TMII, esensi identitas itu coba dibawa ke Jakarta. Tentu skalanya beda dengan di sungai asli Kalimantan, tapi tujuannya jelas: supaya orang-orang di luar Kalimantan bisa lebih paham kalau budaya sungai itu masih hidup dan penting. Dengan begitu, generasi muda Banjar yang merantau ke Jakarta pun punya semacam “rumah budaya” kedua untuk dikenalkan ke teman-teman mereka.
Di sisi lain, Gubernur Kalimantan Selatan menyebut kehadiran dermaga ini sebagai bentuk kemajuan sektor wisata Kalimantan Selatan. Bukan berarti semua dipindah ke Jakarta, tapi lebih ke etalase: orang kenal dulu di TMII, habis itu, kalau penasaran, baru berangkat ke Banjarmasin buat merasakan versi penuhnya.
Apa yang Bisa Kamu Temukan di Dermaga Pasar Terapung TMII?
Walau konsepnya diangkat dari sungai Martapura, pengalaman di Pasar Terapung TMII tetap punya rasa Jakarta-nya sendiri. Di sini, wisatawan bisa lihat langsung bagaimana pasar terapung ditata sebagai ruang budaya. Ada perahu, ada suasana transaksi, dan yang paling kerasa, ada produk-produk lokal yang dibawa langsung dari Kalimantan Selatan.
Pertama, dari sisi kerajinan, kamu bisa nemu kain sasirangan. Ini kain tradisional khas Banjar yang punya motif kuat dan warna berani. Di dermaga ini, sasirangan bukan cuma dipajang sebagai barang jualan, tapi juga sebagai simbol keterampilan warga Banjar yang masih terus hidup sampai sekarang. Dengan beli langsung di sini, kamu ikut mengalirkan rezeki ke para pengrajin di daerah.
Lalu soal kuliner, pengunjung bisa menemukan aneka makanan khas daerah Kalimantan Selatan. Detail menunya memang nggak dijabarkan satu per satu di sumber, tapi setidaknya kita tahu ada ruang khusus buat jajanan dan kuliner. Buat yang doyan eksplor rasa baru, ini kesempatan enak banget nih buat nyicip tanpa harus naik pesawat dulu.
Menariknya, dermaga ini dihadirkan bukan hanya untuk turis luar daerah, tapi juga jadi ruang bangga warga Banjar yang tinggal di Jabodetabek. Dengan begitu, identitas mereka nggak hilang digerus rutinitas kota besar. Pada akhirnya, tempat seperti ini bisa jadi titik kumpul, tempat cerita masa kecil di sungai dibagi lagi ke generasi baru.
Di TMII sendiri, Pasar Terapung jadi bagian dari rangkaian destinasi budaya yang saling nyambung. Jadi setelah mampir ke sini, kamu bisa lanjut ke anjungan daerah lain atau spot wisata lain di dalam kompleks, tergantung energi dan waktu. Dengan cara ini, satu kali masuk TMII bisa jadi perjalanan lintas budaya yang padat tapi tetap santai.
Harga Tiket Masuk TMII dan Hal yang Perlu Kamu Siapkan
Supaya rencana ke Pasar Terapung TMII lebih lancar, penting buat tahu gambaran biaya dasarnya dulu. Informasi di bawah ini berdasarkan data yang tersedia di sumber dan bisa jadi acuan awal sebelum kamu meluncur ke Jakarta Timur bareng teman atau keluarga.
Berikut gambaran harga tiket masuk TMII yang perlu kamu siapin:
- Tiket masuk pengunjung TMII hari kerja (Senin–Jumat): mulai dari Rp 25.000 per orang.
- Tiket masuk pengunjung TMII akhir pekan: mulai dari Rp 35.000 per orang.
- Tiket kendaraan mobil: mulai dari Rp 35.000 per unit.
- Tiket kendaraan motor: mulai dari Rp 20.000 per unit.
- Tiket sepeda: mulai dari Rp 10.000 per unit.
Perlu diingat, harga ini adalah tiket masuk kawasan TMII dan belum termasuk tiket wahana lain kalau ada tarif terpisah. Jadi, kalau kamu bawa kendaraan sendiri, otomatis biaya akan nambah dari sisi tiket kendaraan. Di sisi lain, kalau datang ramean dan patungan, biaya parkir masih cukup bisa dibagi dengan nyaman.
Dari sisi pengalaman, kunjungan ke Pasar Terapung TMII bisa kamu susun bareng destinasi lain di dalam kompleks, jadi lebih hemat waktu dan tenaga. Dengan memahami pola biaya seperti ini, kamu bisa atur prioritas: mau fokus di spot budaya sungai dulu, baru lanjut ke anjungan lain, atau sebaliknya.
Pada akhirnya, Pasar Terapung TMII jadi cara santai buat kenalan dengan budaya sungai Kalimantan Selatan tanpa harus jauh-jauh terbang ke Banjarmasin dulu. Di satu sisi, ini peluang buat pelaku UMKM dan pengrajin Banjar menembus pasar yang lebih luas. Di sisi lain, pengunjung dapat pengalaman budaya yang organik, bukan sekadar dekorasi.
Kalau kamu lagi cari wisata budaya yang beda tapi tetap ramah kantong, pasar terapung versi TMII ini layak banget masuk list jalan-jalanmu di Jakarta Timur. Cek jam operasional dan harga terbaru agar rencana tetap lancar.