Di dunia pendakian gunung, nama Kami Rita Sherpa lagi-lagi naik ke permukaan. Bukan karena drama, tapi karena sesuatu yang nyaris nggak kebayang: menaklukkan Gunung Everest sampai 32 kali.
Gunung setinggi 8.849 mdpl ini sudah lama jadi magnet buat pendaki dari seluruh dunia, termasuk dari Indonesia. Tapi di balik foto puncak dan cerita heroik, ada realita kerja, risiko, dan komunitas lokal yang hidup dari – dan di sekitar – gunung ini.
Everest 32 Kali: Dari Desa Thame ke Rekor Dunia
Mari mulai dari datanya dulu biar kebayang skalanya. Pada 17 Mei 2026, sekitar pukul 10.12 waktu setempat, Kami Rita berdiri lagi di puncak Everest bareng tim ekspedisi internasional yang dia pimpin dari perusahaan 14 Peaks Expedition.
Dengan pendakian ini, dia resmi memecahkan rekornya sendiri sebagai manusia dengan jumlah pendakian Everest terbanyak: 32 kali. Angka yang jujur aja, bikin kepala lumayan pusing kalau dibayangin.
Perjalanan panjang ini nggak instan. Kami Rita pertama kali menggapai puncak Everest tahun 1994, saat dia baru 24 tahun. Sejak itu, hampir tiap musim pendakian dia naik lagi.
Dia cuma absen saat jalur ditutup karena bencana longsor, cuaca ekstrem, atau pandemi Covid-19. Jadi, ini bukan tipe “sekali dua kali terus viral”, tapi kerja konsisten puluhan tahun.
Yang bikin makin kerasa adalah latar belakangnya. Kami Rita lahir di Desa Thame, Distrik Solukhumbu, wilayah yang dikenal sebagai kampung halaman banyak Sherpa pendaki gunung. Ayahnya dulu jadi sirdar, kepala Sherpa, di berbagai ekspedisi Everest.
Jadi, buat dia, Everest bukan cuma gunung wisata. Ini semacam “kantor”, ruang kerja turun-temurun, dan bagian dari identitas komunitasnya.
Di Balik Rekor Everest: Kerja, Bukan Cuma Mimpi Puncak
Kalau kita lihat dari jauh, 32 kali ke Everest kedengarannya kayak pencapaian gila yang diburu buat popularitas. Namun, cara Kami Rita ngomong tentang pekerjaannya justru kebalikannya.
Sebelum berangkat ke Everest Base Camp musim 2026 ini, dia bilang kalau fokus utamanya adalah mengantar klien sampai puncak dengan aman. Dia bahkan merangkum tugasnya dengan simpel: “Mengantar klien ke puncak adalah tugas. Saya melakukan pekerjaan saya.”
Kalimat ini kelihatan sederhana, tapi menggeser cara kita ngelihat pendakian komersial. Buat banyak pendaki asing, Everest adalah mimpi hidup. Buat banyak Sherpa, ini kerja profesional dengan risiko besar.
Dari cerita-cerita lapangan, peran Sherpa itu nggak cuma bawa logistik. Mereka yang pasang tali, cari jalur aman, mantau cuaca, dan sering kali jadi orang pertama yang masuk zona berbahaya. Dengan memahami ini, kita jadi lebih sadar kalau setiap foto orang di puncak Everest biasanya berdiri di atas kerja kolektif tim, terutama Sherpa.
Menurut The Kathmandu Post, pencapaian Kami Rita juga jadi simbol penting buat komunitas Sherpa di Nepal. Banyak anak muda Sherpa melihat dia sebagai sumber inspirasi, apalagi di saat risiko pendakian makin meningkat karena perubahan iklim dan kondisi gunung yang makin nggak stabil.
Di sisi lain, industri pendakian Everest lagi padat-padatnya. Nepal bahkan menerbitkan sampai ratusan izin pendakian untuk musim 2026, angka yang bikin jalur ke puncak semakin ramai. Ini peluang ekonomi, tapi juga bikin pertanyaan soal keselamatan dan kapasitas gunung muncul lagi.
Risiko Nyata di Himalaya dan Pelajaran buat Pendaki Nusantara
Musim pendakian Everest 2026 berlangsung dengan bayang-bayang serius: naiknya suhu di Himalaya. Es mencair lebih cepat, risiko longsor dan runtuhan salju ikut naik.
Reuters melaporkan, sepanjang musim pendakian tahun ini, sedikitnya lima pendaki meninggal dunia di kawasan Himalaya Nepal, tiga di antaranya di Everest. Jadi, meski teknologi makin advanced dan logistik makin rapi, risiko tetap nyata.
Nah, apa hubungannya semua ini dengan kita yang sering main ke gunung-gunung di Indonesia? Ternyata lumayan banyak.
Pertama, cerita Kami Rita ngingetin kalau pendakian itu soal respek. Respek sama gunung, sama cuaca, dan sama orang lokal yang sudah hidup lama di sekitarnya. Kalau di Nepal ada komunitas Sherpa, di Indonesia ada porter, pemandu lokal, dan warga desa di kaki gunung yang jadi bagian penting dari ekosistem wisata alam.
Kedua, dengan melihat bagaimana perubahan iklim bikin Himalaya makin berbahaya, kita bisa refleksi ke sini. Banyak gunung di Nusantara juga kena dampak: jalur berubah, cuaca makin susah ditebak, kebakaran hutan lebih sering.
Ternyata, naik gunung sekarang makin butuh kesiapan, bukan cuma fisik dan gear, tapi juga informasi dan sikap. Misalnya, rajin cek info resmi jalur pendakian, patuh sama aturan petugas, sampai hal sederhana kayak nggak maksa naik kalau kondisi tubuh nggak fit.
Ketiga, ada sisi sosial-ekonomi yang menarik. Di Nepal, komunitas Sherpa punya peran besar dalam industri pendakian Himalaya. Di tempat-tempat wisata alam Indonesia, UMKM lokal dan jasa pemandu juga lagi berjuang buat dapat manfaat yang adil dari ramainya wisata.
Dengan belajar dari cerita di Everest, kita bisa lebih mindful: pilih operator yang jelas, hargai kerja pemandu dan porter, dan dukung usaha lokal di sekitar gunung. Nggak selalu harus mahal, tapi sikapnya yang penting.
Pada akhirnya, rekor Everest 32 kali oleh Kami Rita Sherpa adalah gabungan antara skill, pengalaman gila panjang, dan keberanian bekerja di medan ekstrem. Buat kita, pelajarannya bukan buat ikut-ikutan mengejar rekor, tapi buat lebih sadar dan hormat saat berhadapan dengan alam dan komunitas penjaganya.
Kalau suatu hari kamu berencana main ke Himalaya, atau sekadar menyiapkan itinerary ke gunung-gunung di Indonesia, cerita Kami Rita bisa jadi pengingat: setiap puncak punya banyak cerita di belakang layar.
Simpan artikel ini sebagai referensi perjalanan berikutnya.