Pernah kepikiran nggak, kalau trip ke Geopark Rinjani-Lombok itu sebenarnya bukan cuma soal foto-foto di gunung atau danau, tapi juga nyambung ke status internasional dari UNESCO?
Buat yang suka naik gunung atau minimal nge-scroll foto Rinjani di medsos, kabar ini lumayan penting: Geopark Rinjani-Lombok baru aja berhasil mempertahankan statusnya sebagai UNESCO Global Geopark lewat Kartu Hijau kedua.
Ini bukan sekadar stiker penghargaan, tapi penilaian serius soal gimana alam, edukasi, dan kehidupan warga lokal di sekitar Rinjani dikelola bareng-bareng.
Apa Sih Maksud Kartu Hijau Kedua untuk Geopark Rinjani-Lombok?
Pertama, kita lurusin dulu: Kartu Hijau atau Green Card ini bagian dari proses revalidasi UNESCO Global Geopark.
Intinya, UNESCO ngecek lagi, apakah suatu geopark masih layak punya status global atau nggak.
Nah, Geopark Rinjani-Lombok berhasil dapet Kartu Hijau kedua setelah proses revalidasi internasional di Markas Besar UNESCO di Paris, diumumin resmi pada Selasa, 28 April 2026.
Secara simpel, Kartu Hijau berarti tata kelola Geopark Rinjani-Lombok dinilai masih sesuai standar global.
Bukan cuma dari sisi pemandangan yang cakep, tapi juga cara kawasan ini dijaga dan dimanfaatkan.
General Manager Geopark Rinjani, Qwadru Putro Wicaksono, sampai bilang kalau mempertahankan status itu jauh lebih menantang daripada pas pertama kali dapat.
Menurut dia, Kartu Hijau kedua ini adalah pengakuan dunia atas kerja kolektif semua pemangku kepentingan di Nusa Tenggara Barat.
Jadi, bukan kerja satu lembaga doang, tapi barengan pemda, komunitas lokal, pengelola wisata, sampai sekolah-sekolah.
Di sisi lain, buat kita yang datang sebagai wisatawan, informasi ini bisa jadi pengingat kalau setiap langkah di jalur pendakian atau di desa wisata di sekitar Rinjani punya dampak.
Dengan memahami konteks ini, kita bisa agak lebih mindful pas main ke sana.
Bukan Cuma Indah: Konservasi, Edukasi, dan Warga Lokal Jadi Fokus
Yang dinilai UNESCO bukan sekadar view dari puncak atau Danau Segara Anak, tapi keseluruhan ekosistem sosial dan alam di lingkar Gunung Rinjani.
Tim asesor profesional datang dan ngecek dampak nyata geopark ini buat warga sekitar.
Jadi, kalau selama ini kita mikir geopark cuma label keren buat branding wisata, di sini kelihatan jelas kalau levelnya lebih dalam.
Fokus utamanya ada di tiga hal: konservasi, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
Konservasi berarti menjaga alam Rinjani dan sekitarnya tetap sehat, dari hutan sampai batuan yang jadi “buku cerita” geologi.
Edukasi berarti pengelola nggak cuma buka jalur pendakian, tapi juga bikin orang paham kenapa kawasan ini penting.
Nah, pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal artinya warga di lingkar Rinjani ikut merasakan manfaat, bukan cuma nonton wisatawan datang dan pergi.
Menurut Qwadru, kesejahteraan masyarakat di kawasan lingkar Gunung Rinjani jadi poin penting dalam penilaian.
Semua elemen pengelolaan geopark harus menghasilkan manfaat yang bisa dirasakan langsung oleh penduduk.
Jadi misalnya, aktivitas wisata, program edukasi, sampai proyek kecil di desa harus nyambung ke peningkatan kualitas hidup warga.
Selama empat tahun terakhir, pengelola Geopark Rinjani-Lombok juga ngaku banyak melakukan inovasi, terutama di bidang edukasi.
Materi tentang geopark sekarang masuk ke kurikulum lokal.
Artinya, anak-anak di sekolah wilayah sekitar Rinjani mulai belajar langsung tentang bumi tempat mereka tinggal, bukan cuma dari buku umum.
Ini lumayan keren, karena ilmu geologi dan lingkungan jadi terasa dekat.
Dengan begitu, generasi muda di sana punya modal pengetahuan buat jaga Rinjani ke depan.
Buat wisatawan sendiri, ini bisa kebaca saat kita ketemu pemandu lokal yang paham cerita batuan, jalur, dan sejarah kawasan.
Mereka nggak sekadar nunjukin spot foto, tapi juga bisa cerita soal risiko bencana, proses terbentuknya kawah, dan lain-lain.
Pada akhirnya, pengalaman jalan-jalan bisa jadi lebih bermakna, asal kita mau dengerin.
Lombok Rawan Gempa: Mitigasi Bencana dan Rinjani sebagai Laboratorium Alam
Satu hal yang kadang suka kita lupakan saat merencanakan trip: Lombok ada di kawasan yang rawan gempa tektonik.
Nah, aspek mitigasi bencana ini jadi hal super krusial dalam pengelolaan Geopark Rinjani-Lombok.
Pengetahuan geologi dibutuhkan bukan cuma buat ahli, tapi juga buat keselamatan wisatawan dan warga lokal.
Dengan memahami kondisi geologi, resiko bencana bisa dipetakan dan dikomunikasikan lebih jelas.
Misalnya, jalur mana yang rawan, area mana yang aman untuk berkegiatan, sampai bagaimana respons kalau terjadi gempa.
Dari sini kelihatan kalau status UNESCO Global Geopark bukan sekadar pengakuan soal keindahan, tapi juga soal kesiapan menghadapi risiko.
Di sisi lain, Duta Besar Republik Indonesia untuk Perancis, Mohamad Oemar, menegaskan posisi penting Geopark Rinjani-Lombok di mata dunia.
Buat dia, Rinjani bukan cuma destinasi wisata, tapi juga laboratorium alam yang vital bagi ilmu pengetahuan.
Istilah “laboratorium alam” ini relevan banget, karena di satu kawasan, ilmuwan bisa mempelajari gunung api, gempa, perubahan lingkungan, sampai dinamika sosial masyarakat yang hidup berdampingan dengan risiko alam.
Sebagai traveler, kita mungkin datang dengan tujuan simpel: refreshing, foto, atau cari suasana baru.
Namun, begitu tahu Rinjani dilihat sebagai laboratorium alam, ada sense tanggung jawab kecil yang ikut kebawa.
Setidaknya, kita bisa lebih peka terhadap aturan, rambu keselamatan, dan info resmi dari pengelola.
Jadi, bukan cuma ngandelin feeling atau ikut-ikutan rombongan tanpa tahu konteks.
Pada akhirnya, keberhasilan Geopark Rinjani-Lombok mempertahankan status UNESCO Global Geopark lewat Kartu Hijau kedua nunjukkin satu hal penting.
Wisata alam yang keren itu butuh pengelolaan serius, keterlibatan warga lokal, dan kesadaran pengunjung.
Kalau kamu ada rencana ke Rinjani atau jelajah Lombok dalam waktu dekat, info soal geopark ini bisa jadi pengingat buat jalan-jalan dengan lebih respect.
Cek jam operasional dan harga terbaru agar rencana tetap lancar.