Kalau ngomongin kota paling berwarna di dunia, banyak dari kita mungkin langsung kepikiran kawasan heritage di Indonesia yang temboknya dicat cerah atau mural warna-warni di gang sempit. Tapi hasil studi global terbaru ternyata bilang lain: yang duduk manis di posisi pertama justru Lisbon, ibu kota Portugal.
Kontras banget sama asumsi kita yang sering merasa kawasan warna-warni di sini udah “world class”. Ternyata, ada cara lain melihat warna kota yang jauh lebih teknis dan terukur, dan itu bikin daftar kota berwarna versi dunia jadi kelihatan agak di luar dugaan.
Laporan JustCover: Lisbon Paling Berwarna, Indonesia Masih Absen
Studi yang ngebuat Lisbon dinobatkan sebagai kota paling berwarna di dunia ini datang dari JustCover, sebuah perusahaan asuransi perjalanan asal Irlandia. Mereka menganalisis 78 kota di dunia pakai metode yang lumayan serius, bukan sekadar “wah ini kelihatan colorful di Instagram”.
Jadi, mereka ambil foto-foto tanpa filter dari berbagai destinasi global, lalu memetakan palet warna kota secara keseluruhan. Setelah itu, warna unik dalam foto-foto itu dihitung pakai teknologi berbasis piksel. Dari proses ini, Lisbon keluar sebagai juara dengan lebih dari 2,6 juta warna yang tertangkap.
Angka ini bukan cuma soal cat tembok yang cerah, tapi kombinasi dari banyak elemen visual. Di sisi lain, kota-kota lain seperti Kuala Lumpur dan Porto juga masuk di posisi atas. Kuala Lumpur, misalnya, dinilai punya kontras kuat antara gedung pencakar langit modern, rumah tradisional, dan kuil dengan arsitektur khas.
Yang cukup bikin mikir, Indonesia belum disebut dalam daftar ini. Padahal, secara kasat mata, kita punya banyak spot warna-warni yang sering viral. Dengan memahami cara studi ini bekerja, kita jadi sadar: yang diukur bukan hype, tapi keragaman warna yang benar-benar terekam kamera.
Apa yang Bikin Lisbon Kelihatan Warna-Warni Banget?
Kalau kamu lihat foto Lisbon, vibe warna-warni itu kelihatan natural, bukan hasil editan ekstrim. Lisbon dikenal dengan bangunan-bangunan pastel, dari krem lembut sampai kuning pucat, yang berjejer di kawasan bersejarah seperti Alfama.
Rumah-rumah di kota ini juga banyak yang dihiasi azulejos, yaitu keramik tradisional bermotif penuh warna. Motif-motif ini bikin tembok biasa berubah jadi semacam kanvas raksasa, dan kalau difoto dari berbagai sudut, variasi warnanya makin terasa. Di atas semua itu, ada atap rumah yang mayoritas berwarna bata kemerahan.
Kalau dilihat dari atas, atap bata ini bikin tampilan kota jadi kontras dengan langit biru cerah. Jadi ada kombinasi unik: dinding pastel, atap merah bata, dan langit biru yang kuat. Secara visual, itu semua “ngobrol” bareng dan hasilnya kota kelihatan kaya warna tanpa terkesan berlebihan.
Belum lagi trem kecil berwarna kuning yang mondar-mandir di jalan sempit kawasan tua. Objek kuning terang di tengah dominasi pastel dan bata ini nambah aksen yang kuat. Pada akhirnya, semua unsur ini bikin Lisbon punya karakter visual yang gampang diingat dan terdeteksi jelas saat dianalisis lewat piksel.
Di sisi lain, Kuala Lumpur dapat nilai tinggi karena kontras yang lebih ekstrem. Di sana, gedung pencakar langit modern ketemu rumah tradisional dan kuil warna-warni. Salah satu ikon kuatnya adalah tangga pelangi di Gua Batu, dengan warna-warna mencolok yang sering nongol di feed media sosial, meski lokasinya di luar pusat kota.
Indonesia Belum Masuk Daftar, Tapi Apa Benar Kita Kurang Berwarna?
Faktanya, dalam studi ini belum ada kota dari Indonesia yang diumumkan sebagai kota paling berwarna di dunia. Buat sebagian orang, ini mungkin terasa agak “kok bisa?”, mengingat beberapa kawasan di sini sering dipromosikan sebagai kampung warna-warni atau kota penuh mural.
Namun, kalau lihat lagi cara studi ini dilakukan, kita jadi paham kenapa hasilnya bisa begitu. JustCover menganalisis 78 kota yang mereka pilih, lalu menghitung warna unik dari foto-foto tanpa filter. Artinya, banyak hal teknis yang berperan: dari sudut pengambilan gambar, waktu pemotretan, sampai kondisi cahaya alami.
Jadi, absennya Indonesia di daftar ini belum tentu berarti kota-kota kita kalah menarik. Lebih ke arah: belum jadi bagian dari studi yang metodenya sangat spesifik. Ternyata, yang dinilai bukan cuma seberapa niat kita mengecat rumah dengan warna ngejreng, tapi seberapa kaya spektrum warna yang terekam secara konsisten.
Di sisi lain, ini juga bisa jadi bahan refleksi bareng. Kita sering bikin kampung warna-warni secara instan, tapi nggak selalu mikirin keberlanjutan, kenyamanan warga, atau fungsi ruang hidup itu sendiri. Sementara Lisbon dan Kuala Lumpur punya lapisan warna yang muncul dari sejarah, arsitektur, dan aktivitas kota yang berjalan puluhan sampai ratusan tahun.
Dengan memahami konteks ini, kita bisa lihat studi kota paling berwarna di dunia bukan sebagai ajang “siapa paling heboh”, tapi sebagai cara lain membaca wajah kota. Mungkin ke depan, kalau ada riset serupa yang melibatkan lebih banyak kota Asia Tenggara, kota di Indonesia juga bisa ikut terlihat.
Pada akhirnya, daftar kota paling berwarna di dunia dengan Lisbon di posisi pertama ini bukan akhir cerita. Buat kita yang suka eksplor, ini justru undangan buat melihat kota—baik di luar negeri maupun di Indonesia—dengan mata yang lebih peka. Kalau suatu hari kamu jalan ke Lisbon, Kuala Lumpur, atau justru kampung warna-warni dekat rumah sendiri, coba perhatiin: warna-warna di sana datang dari mana, dan siapa yang tinggal di balik tembok-tembok itu.
Simpan artikel ini sebagai referensi perjalanan berikutnya.