Janji singkat: habis baca ini, kamu bakal paham kenapa wisata pengalaman lagi jadi primadona dan gimana caranya bikin liburan kamu lebih bermakna, bukan cuma capek pindah-pindah spot.
Selama ini mungkin kamu terbiasa liburan model “sapu bersih”: sehari bisa tiga kota, semua tempat viral disamperin, tapi ujung-ujungnya lupa rasa momennya kayak apa. Nah, tren sekarang pelan-pelan geser ke arah yang jauh lebih santai dan relevan sama hidup banyak orang.
Wisata Pengalaman: Dari Ngebut Destinasi ke Cari Value
Dulu, banyak pelancong bangga kalau bisa cerita, “Sekali trip, aku ke lima kota, belasan destinasi,” kayak checklist panjang yang harus dituntasin. Sekarang, makin banyak yang mikir, “Ngapain jauh-jauh kalau ujungnya cuma numpuk foto tanpa cerita?”
Menurut pemaparan Kitty Chandra dari Golden Rama Tours & Travel, banyak wisatawan sekarang lebih fokus cari value. Bukan lagi soal berapa banyak kota yang disinggahi, tapi seberapa nyambung dan berkesan pengalaman itu buat diri mereka sendiri. Jadi, traveling mulai ditanya serius: tujuan gue jalan ini apa sih, mau nyari apa dari perjalanan ini?
Data yang ia bawa dari studi McKinsey juga lumayan bikin mikir. Lebih dari 70 persen pelancong di dunia sekarang memprioritaskan pengalaman dibanding barang atau jumlah destinasi. Artinya, pengalaman berkesan dianggap lebih bernilai daripada koper penuh belanjaan atau daftar spot yang panjang.
Ternyata, tren ini juga kelihatan jelas di cara orang nyusun itinerary. Banyak yang tetap pilih destinasi populer seperti Jepang atau Korea, tapi mereka nggak lagi kebut dari satu kota ke kota lain. Di sisi lain, mereka lebih memilih ngulik satu kota lebih dalam, eksplor sudut-sudut yang dulu sering kelewat.
Sebagai contoh, alih-alih lima kota dalam seminggu, orang bisa milih dua kota saja. Lalu mencoba aktivitas yang nyambung sama minat: kuliner lokal yang jarang ter-ekspos, kawasan yang lebih tenang, atau acara budaya yang bikin kita beneran ngobrol sama warga setempat. Polanya pelan tapi ngena.
Perjalanan Makin Personal: Liburan Jadi Cara Nyari Diri
Perubahan ke arah wisata pengalaman ini nggak datang tiba-tiba. Kitty bilang, tren ini makin kelihatan sejak pandemi Covid-19 mulai mereda. Setelah bertahun-tahun gerak terbatas, orang-orang kayak punya waktu mikir: kalau nanti bisa jalan lagi, gue mau jalan yang bener-bener berarti.
Dengan kata lain, aktivitas traveling jadi lebih personal. Nggak sekadar ajang kabur dari rutinitas, tapi juga cara buat nemuin jati diri. Banyak yang pakai momen liburan untuk refleksi, ngatur ulang prioritas, sampai ngetes hal-hal baru yang sebelumnya nggak pernah dicoba.
Di sisi lain, studi global yang disampaikan Kitty nunjukin kalau keinginan orang buat jalan-jalan justru naik. Lebih dari 60 persen pelancong di dunia ingin melakukan perjalanan, angkanya bahkan lebih tinggi dibanding sebelum pandemi. Jadi minatnya naik, tapi gaya mainnya berubah.
Setelah pintu perjalanan internasional dibuka lagi, pergerakan wisata ikut melesat. Aktivitas domestik naik sekitar 20 persen, sementara internasional naik 14 persen pada 2024. Lalu di 2025, pertumbuhannya masih naik, tapi lebih stabil di sekitar tujuh persen untuk dua-duanya.
Kalau lihat data internal Golden Rama Tours & Travel, pada paruh pertama 2026, mereka catat peningkatan perjalanan lebih dari 20 persen. Angka ini nunjukin satu hal: orang nggak kapok jalan-jalan, malah makin niat. Namun, caranya jadi lebih terencana, lebih mikir makna, dan lebih milih pengalaman yang relevan sama hidup mereka sekarang.
Menariknya lagi, destinasi yang dikunjungi belum tentu berubah drastis. Jepang dan Korea tetap jadi favorit, tapi cara menikmatinya yang beralih. Dari yang dulu kejar ikon kota ke ikon kota, sekarang banyak yang pengin cari sisi lain dari destinasi yang sama. Misalnya, kawasan yang dulu nggak sempat dieksplor, atau aktivitas lokal yang sebelumnya dianggap “nanti aja”.
Dengan memahami arah baru ini, kita bisa lihat kalau wisata pengalaman bukan tren kaleng-kaleng, tapi respon wajar setelah orang melewati masa sulit. Banyak yang sadar, waktu, energi, dan uang untuk jalan-jalan nggak murah, jadi wajar kalau semua itu mau dipakai untuk sesuatu yang lebih bermakna.
Cara Biar Liburan Kamu Ikut Ngalir ke Tren Wisata Pengalaman
Nah, pertanyaannya sekarang: gimana biar gaya jalan kamu juga ikut geser ke model wisata pengalaman tanpa harus jadi ribet? Pertama, coba mulai dari niat paling dasar: tanya diri sendiri, “Gue mau pulang dari perjalanan ini dengan rasa apa?” Santai, inspirasi, lebih kenal diri, atau pengin dekat sama orang yang diajak jalan bareng.
Setelah itu, baru atur destinasi dan aktivitas yang nyambung. Kalau kamu tipenya suka kenal budaya lokal, alokasi waktu lebih banyak di satu kota bisa jauh lebih worth it daripada mampir cepat di tiga kota. Dengan begitu, kamu punya ruang buat ngobrol, nyasar dikit, dan nemuin momen yang nggak direncanain tapi berkesan.
Di sisi lain, tren wisata pengalaman juga bikin kita agak lebih tega bilang “nggak” ke itinerary yang kelewat padat. Nggak apa-apa banget kalau satu hari cuma isi dua kegiatan, asal kamu beneran hadir di momen itu. Capek fisik pun berkurang, dan memori yang kebawa pulang lebih jelas, bukan kabur kayak habis lari maraton.
Biar relevan sama kondisi sekarang, kamu juga bisa manfaatin insight dari agen perjalanan yang mulai kebanjiran permintaan trip personal. Mereka melihat langsung pola baru traveler: lebih selektif, lebih terencana, dan lebih sering tanya soal pengalaman spesifik, bukan sekadar list destinasi terkenal. Dari situ, kamu bisa curi ide cara menyusun liburan yang lebih nyantol di hati.
Pada akhirnya, wisata pengalaman bikin liburan jadi ajang mengenal diri, bukan cuma numpuk destinasi. Kamu tetap bisa ke negara atau kota yang sama seperti dulu, tapi dengan cara menikmati yang beda total. Fokusnya bukan lagi berlomba cerita, “Gue udah ke mana aja,” melainkan, “Perjalanan ini bikin gue ngerasa apa dan belajar apa.”
Jadi, sebelum trip berikutnya, coba pikirkan gaya liburan yang kamu mau dan berani pelan sedikit demi pengalaman yang lebih dalam. Cek jam operasional dan harga terbaru agar rencana tetap lancar.