Penasaran nggak, seberapa siap wisata halal Afrika Selatan buat nerima turis Muslim Indonesia yang makin doyan jalan-jalan ke luar negeri?
Ternyata negara ini lagi serius banget melirik kita, sampai ngomong langsung ke media di ASTINDO Travel Fair 2026 di Tangerang.
Menteri Pariwisata Afrika Selatan, Patricia de Lille, buka-bukaan soal fasilitas ramah Muslim yang mereka siapin, plus kerja sama resmi sama pemerintah Indonesia.
Buat kamu yang berhijab, cari makanan halal, atau pengin liburan sambil tetap nyaman ibadah, info ini lumayan menggiurkan.
Fasilitas Ramah Muslim Afrika Selatan, Beneran Seramah Itu?
Dari penjelasan Patricia, vibes-nya jelas: mereka mau nunjukin kalau Afrika Selatan nggak cuma soal savana dan safari.
Dia cerita, semua kota besar di sana udah punya fasilitas ramah Muslim, dari masjid sampai makanan halal.
Contoh paling konkret, Cape Town yang jadi salah satu kota utama di sana disebut punya sekitar 150 masjid.
Buat kita yang sering bingung cari mushala pas jalan-jalan, angka itu kerasa lumayan melegakan.
Lebih dari itu, ada cerita sejarah yang cukup nyambung ke Indonesia.
Patricia nyebut, di Afrika Selatan ada masjid tertua yang dibangun sekitar tahun 1700-an.
Masjid ini pertama kali digagas imam asal Indonesia bernama Imam Yusuf, jadi ada jejak diaspora Nusantara di sana.
Jadi, bukan cuma nyaman secara fasilitas, tapi juga ada keterhubungan budaya yang bikin destinasi ini terasa lebih dekat.
Selain masjid, mereka juga klaim sudah menyiapkan berbagai atraksi wisata, hotel, sampai restoran halal buat wisatawan Muslim.
Dengan kata lain, kalau kamu tipe yang biasanya ribet cek label halal dulu, di sini paling nggak kamu punya lebih banyak opsi.
Memang, masih perlu waktu buat bener-bener ngetes di lapangan, tapi arah kebijakannya kelihatan jelas.
Kerja Sama Indonesia–Afrika Selatan dan Rencana Safari Lodge Halal
Supaya promosi wisata halal Afrika Selatan ke Indonesia nggak sekadar wacana, ada satu langkah yang cukup penting.
Patricia sudah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Pariwisata dengan Menteri Pariwisata Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana.
MoU ini jadi payung kerja sama buat banyak hal, mulai dari pariwisata berkelanjutan, pengembangan skill, sampai pemasaran dan promosi.
Di sisi lain, ada juga poin soal investasi pariwisata, standar keamanan dan layanan, riset, dan kerja sama regional yang lebih luas.
Bahasanya mungkin kedengeran resmi banget, tapi dampaknya ke traveler bisa cukup nyata.
Dengan adanya MoU, peluang buat paket-paket wisata lebih tertata dan info lebih mudah diakses itu makin besar.
Agen-agen perjalanan di Indonesia juga punya dasar lebih jelas buat jualan destinasi Afrika Selatan.
Ternyata, mereka juga lagi mempertimbangkan pembangunan Safari Lodge ramah Muslim di Taman Nasional Kruger.
Bayangin, bisa lihat hewan liar khas Afrika dengan akomodasi yang disiapkan buat wisatawan Muslim.
Patricia bilang, idenya adalah ngasih pilihan menginap yang nyaman, tapi tetap dukung kebutuhan wisatawan Muslim.
Konsepnya, pengunjung bisa menikmati safari sambil tetap tenang soal makanan dan kenyamanan ibadah.
Kalau rencana ini jalan, ini bisa jadi salah satu poin jualan unik buat turis Indonesia yang pengin pengalaman beda.
Sekarang, data kunjungan turis Indonesia ke Afrika Selatan masih relatif kecil, sekitar 3.000 orang tahun lalu.
Menariknya, jumlah turis dari Singapura udah 9.827 orang dan dari Malaysia 7.773 kunjungan.
Artinya, pasar Asia Tenggara udah mulai kenal destinasi ini, dan Indonesia masih punya ruang tumbuh lumayan besar.
Di sisi lain, kunjungan wisatawan Afrika Selatan ke Indonesia justru lebih tinggi, sekitar 30.000 orang.
Dari situ, Patricia ngelihat potensi pertumbuhan wisata dua arah yang masih kebuka lebar.
Afrika Selatan sendiri mengaku terbuka buat berbagai segmen, dari keluarga sampai wisatawan muda.
Jadi, kalau kamu traveler solo, pasangan baru nikah, atau liburan bareng geng, secara konsep mereka ngaku siap.
Bebas Visa, Formulir Elektronik, dan Akses Penerbangan yang Lagi Digarap
Satu hal yang sering bikin orang males ke destinasi jauh adalah urusan visa.
Patricia juga sadar kalau ini pernah jadi kendala buat orang Indonesia yang pengin ke Afrika Selatan.
Karena itu, sekarang mereka udah ngegas dengan bikin kunjungan turis Indonesia–Afrika Selatan bebas visa.
Sebagai pengganti, turis Indonesia cukup isi formulir perjalanan elektronik atau Electronic Travel Authorisation.
Menurut Patricia, pengajuan formulir ini bisa diproses kurang dari 24 jam.
Bahkan, kadang bisa lebih cepat lagi, jadi nggak perlu nunggu lama-lama sebelum berangkat.
Dengan begitu, proses berangkat ke sana harusnya bisa lebih lancar dan nggak serumit bikin visa manual.
Ini jelas jadi poin plus kalau kamu tipe traveler yang pengin proses administrasi sesimpel mungkin.
Selain soal izin masuk, mereka juga lagi mikir serius soal konektivitas penerbangan.
Afrika Selatan berencana memperluas layanan penerbangan untuk memudahkan turis dari Asia Tenggara.
Salah satu jalurnya, mereka pengin memaksimalkan akses lewat Bandara Internasional Changi di Singapura.
Artinya, kemungkinan rute-rute yang melewati hub Singapura bakal makin diperkuat.
Memang, detail soal maskapai, frekuensi penerbangan, atau harga tiket belum dijelasin di info ini.
Tapi arahnya cukup jelas: mereka mau bikin rute dari negara-negara ASEAN ke Afrika Selatan lebih praktis.
Dengan memahami ini, kamu bisa mulai kepikiran buat masukin Afrika Selatan ke bucket list liburan jangka menengah.
Pada akhirnya, semua informasi tadi kasih gambaran awal kalau wisata halal Afrika Selatan lagi digarap serius.
Fasilitas ramah Muslim dipamerkan, kerja sama resmi dengan Indonesia sudah diteken, bebas visa plus formulir elektronik disiapkan.
Sekarang tinggal nunggu bagaimana realisasi di lapangan dan kesiapan agen perjalanan lokal bantu ngemas paket yang masuk akal.
Kalau kamu mulai kepo dan pengin eksplor lebih jauh, cek detail tambahan dari agen perjalanan atau situs resmi pemerintah terkait.
Cek jam operasional dan harga terbaru agar rencana tetap lancar.