Di tengah padatnya perumahan yang minim halaman, kebun sayur hidroponik pelan-pelan jadi cara baru anak muda berteman sama makanan segar. Bukan cuma soal gaya hidup hijau, tapi juga soal cari cuan dari lahan yang selama ini dianggap “gak kepake”. Di Bangkalan, Jawa Timur, satu rooftop di Jalan HOS Cokroaminoto jadi contoh nyata kalau hobi tanam bisa naik level.
Kisah ini datang dari Ardan Gizanul Muniri, yang iseng produktif waktu pandemi, lalu berakhir punya kebun selada dan kale di lantai dua rumahnya. Dari satu nampan kecil berisi 20 biji selada, sekarang dia ngurus seribu lubang tanam yang rapi berjajar di atas teras. Transisinya pelan tapi konsisten, dan di situlah poin serunya.
Dari Satu Nampan Selada ke Seribu Lubang Tanam
Awalnya simpel banget, Ardan cuma pengin tetap produktif ketika aktivitas lagi terbatas tahun 2020. Pandemi bikin banyak orang bengong di rumah, tapi dia milih ngoprek hidroponik. Masalahnya klasik anak komplek: lahan tanah hampir gak ada, halaman cuma sisa sedikit buat jemur baju.
Di situ dia nemu jalan lewat hidroponik, yaitu metode tanam pakai air yang dikasih nutrisi, bukan pakai tanah. Dia mulai dari satu nampan semai isi 20 biji selada. Langkah ini kelihatan kecil, tapi jadi pintu masuk ke dunia baru yang lumayan nagih.
Ternyata, percobaan pertama itu berhasil. Bibit selada yang dia tanam tumbuh sampai bisa dipanen, dan dari sana makin kelihatan potensinya. Pada akhirnya, keberhasilan kecil itu bikin dia cukup pede buat naik kelas. Dari cuma coba-coba, dia mulai kepikiran investasi lebih serius.
Perlahan, teras lantai dua yang tadinya cuma buat jemur berubah fungsi. Bukan lagi area yang dilupain, tapi jadi zona hijau yang beneran hidup. Dengan begitu, rumah di tengah kota bisa punya suasana adem dan produktif dalam satu paket.
Rooftop Disulap Jadi Kebun Hidroponik Selada dan Kale
Keputusan nekat Ardan datang ketika dia mutusin merogoh kocek sampai sekitar Rp 20 juta. Uangnya dipakai buat bikin seribu lubang tanam dari paralon di teras lantai dua rumahnya. Di lahan sekitar 400 meter persegi itu, dia nyusun kebun hidroponik yang super tertata.
Kalau kamu bayangin kebun itu kotor dan belepotan tanah, di sini kebalikannya. Hamparan daun hijau keriting dari selada dan kale tersusun rapi di talang paralon. Net pot kecil-kecil menggantung, akarnya nyelam di aliran air yang udah dikasih nutrisi. Secara visual, ini tipe kebun yang bikin siapa aja pengin foto dulu sebelum ngobrol.
Prosesnya juga gak sembarangan. Dari awal, Ardan belajar hidroponik lewat berbagai video YouTube. Step by step dia pelajari cara semai, cara ngatur aliran air, sampai nyiapin reservoir. Dengan memahami dasar-dasarnya, dia bisa bikin sistem yang lancar dan gak asal ikut tren sesaat.
Talang paralon dilubangi buat jadi rumah net pot. Di bawahnya, ada reservoir yang nyimpen air bercampur nutrisi. Dari reservoir ini, air dipompa dan dialirkan ke talang, muter terus jadi asupan buat selada dan kale. Kelihatannya simpel, tapi kalau satu bagian kacau, tanaman bisa langsung ngambek.
Selain tampilan yang rapi dan bersih, kebun model gini juga enak dilihat dari sisi kota. Di tengah bangunan beton, ada roof yang warna dominannya hijau segar. Di sisi lain, sayuran yang dipanen langsung dari atas rumah jelas punya nilai jual tersendiri, apalagi buat orang yang cari sayur segar.
Belajar Serius Rawat Hidroponik: Bukan Cuma Soal Cuan
Walaupun akhirnya bisa meraup cuan dari selada dan kale, perjalanan Ardan bukan cuma soal duit. Hidroponik nuntut perhatian rutin. Dia harus rajin ngecek pH air, kepekatan nutrisi, volume air di reservoir, dan kondisi daun satu per satu. Kalau lalai, tanaman bisa layu bareng-bareng.
Di satu sisi, ini jadi PR harian yang lumayan teknis. Di sisi lain, ada rasa puas tiap lihat daun makin subur dan siap panen. Dengan konsisten merawat detail kecil kayak gini, hasil panen jadi lebih mantap dan stabil. Untuk skala seribu lubang tanam, sedikit kesalahan komposisi nutrisi bisa kerasa efeknya.
Dari cerita ini, kerasa banget kalau urban farming model hidroponik itu kombinasi antara hobi, ilmu, dan manajemen risiko. Kalau kamu cuma ngejar tampilan aesthetic tanpa mau belajar, kemungkinan besar bakal capek duluan. Namun, kalau mau pelan-pelan kayak Ardan, mulai dari satu nampan dulu, hasilnya bisa ngembang natural.
Kisah Ardan juga nunjukin kalau rumah di kota kecil kayak Bangkalan pun punya peluang main di dunia sayur segar, bukan monopoli kota besar aja. Dengan memanfaatkan rooftop, dia gak perlu beli atau sewa lahan tambahan. Ini saving besar buat siapa pun yang mau mulai.
Pada akhirnya, kebun sayur hidroponik di rooftop ini kasih contoh praksis kalau ruang sempit tetap bisa produktif dan menguntungkan. Selada dan kale yang tumbuh di lantai dua rumah Ardan jadi simbol kecil tentang cara baru memaknai rumah: bukan cuma tempat istirahat, tapi juga tempat menanam, belajar, dan berpenghasilan.
Pantau info resmi dari pengelola atau dinas setempat sebelum berkunjung.