“Semarang tuh udah beda sekarang, bukan kota lewat doang,” cerita seorang teman yang lahir dan besar di sana. Dari dia aku pertama kali dengar soal hotel portal lintas waktu di Semarang yang lagi dibangun dan rencananya bakal buka kuartal ketiga 2026.
Katanya, ini bukan hotel yang isinya barang antik cuma buat pajangan estetik di sudut ruangan. Di sini, tiap benda antik mau diajak ngobrol, dimaknai, dan dikaitin lagi sama cerita kota dan orang-orangnya.
Buat kamu yang lagi mikir, “Emang Semarang sekarang segitu serunya ya?” Yuk kita kulik pelan-pelan.
KoenoKoeni Hotel Semarang: Dari Kafe Antik Jadi Portal Lintas Waktu
Nama KoenoKoeni mungkin udah pernah kamu denger kalau sering main ke Semarang. Dulu, KoenoKoeni lebih dikenal sebagai kafe galeri yang isinya koleksi barang antik, lengkap dengan cerita proses, keterampilan, dan perjalanan lintas generasi.
Nah, konsep itu sekarang dibawa naik kelas jadi small luxury hotel. Tapi, santai, luxury di sini lebih ke pengalaman dan detail, bukan pamer glamor berlebihan. Mereka mau bikin ruang yang hangat, kaya cerita, dan tetap nyaman buat istirahat.
Konsep hotel portal lintas waktu di Semarang ini cukup niat. Ruang-ruang publiknya akan menonjolkan kekayaan historis, sementara area privat kayak kamar dibuat tenang dan modern. Jadi, di luar kamu bisa ngerasain vibe masa lalu, tapi begitu masuk kamar tetap kerasa kontemporer dan chill.
Manajemen KoenoKoeni sampai bilang kalau bagi mereka, benda antik itu bukan sekadar hiasan. Di balik itu ada nilai, skill pengrajin, dan cerita keluarga yang lewat dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dari situ kelihatan banget kalau fokus mereka bukan cuma dekor, tapi juga edukasi halus lewat suasana.
Kalau ngomong fasilitas, walau jumlah kamarnya cuma 11, pilihan ruangannya lumayan lega. Ada Deluxe Room sekitar 35 meter persegi dan Executive Room sekitar 70 meter persegi. Pemandangannya pun digadang-gadang bisa ngeliat kota Semarang, Gunung Ungaran, sampai garis pantai.
Di sisi lain, area makan dan nongkrongnya juga disiapin serius. Akan ada restoran all-day dining bernama Roepa Rasa, kafe lobi Sapa Rasa, plus rooftop restaurant & bar Soeara Langit dengan panorama kota. Dari namanya aja udah kebayang ambience yang pengin mereka bangun: dekat dengan rasa, cerita, dan langit Semarang.
Biar makin lengkap, ada juga fasilitas kolam renang indoor, spa, pusat kebugaran, area bermain anak, ruang pertemuan, valet 24 jam, sampai stasiun pengisian kendaraan listrik. Jadi, walaupun konsepnya nostalgia, fasilitasnya tetap kekinian.
Dari Kota Transit Jadi Destinasi: Semarang Pelan-Pelan Naik Kelas
Selama ini banyak orang lihat Semarang cuma sebagai titik singgah di tengah Pulau Jawa. Mau ke Yogyakarta, Borobudur, atau Surakarta, seringnya cuma lewat atau nginep semalam. Tapi pelan-pelan, image itu berubah.
Dengan hadirnya hotel portal lintas waktu di Semarang kayak KoenoKoeni, kota ini ngasih sinyal jelas: mereka siap jadi destinasi, bukan cuma tempat transit. KoenoKoeni sendiri dibilang sebagai tonggak penting pengembangan mereknya sebagai destinasi hospitality yang mengangkat budaya Jawa Tengah.
Namun, penting juga buat lihat Semarang lebih luas. Di sekitar kota, sudah ada beberapa spot wisata yang bikin keluarga betah liburan agak lama. Misalnya, Saloka Theme Park di kawasan Tuntang, Kabupaten Semarang. Ini taman hiburan keluarga yang punya wahana tematik, nggabungin hiburan, edukasi, dan budaya lokal.
Zona-zonanya dibagi dari area anak kecil dengan wahana pelan, sampai wahana ekstrem buat remaja dan dewasa. Tiketnya di kisaran Rp120.000–Rp150.000 tergantung hari. Lumayan, tapi masih masuk akal buat pengalaman satu hari penuh.
Kalau pengin yang lebih dekat kota dan lebih sederhana, ada Wonderia di tengah Kota Semarang. Ini taman rekreasi keluarga dengan wahana klasik kayak bianglala, komidi putar, kereta mini, dan permainan anak. Tiket sekitar Rp25.000 per orang, jadi lebih ramah di kantong.
Lalu, kalau kantong lagi mepet tapi tetap pengin liburan, Semarang juga nggak pelit opsi. Ada Kampung Batik Semarang yang tiket masuknya gratis. Di sini, anak-anak bisa lihat langsung proses bikin batik dari pola sampai pewarnaan. Tantangannya cuma satu: tahan godaan belanja kalau lihat barang lucu tapi budget tipis.
Masih di area yang terjangkau, Kota Lama Semarang juga jadi andalan. Deretan bangunan Eropa, jalan yang lumayan ramah pejalan kaki, dan ruang terbuka bikin kawasan ini cocok buat jalan santai sambil foto-foto. Sebagian besar area bisa diakses tanpa bayar.
Buat yang tertarik sejarah Tionghoa dan jejak pelayaran Laksamana Cheng Ho, kompleks klenteng Sam Poo Kong juga bisa masuk itinerary. Area klenteng luas, enak buat jalan pelan-pelan sambil lihat ornamen dan bangunan. Tiketnya sekitar Rp10.000–Rp20.000, relatif terjangkau untuk pengalaman budaya.
Pada akhirnya, kombinasi antara hotel berkonsep kuat seperti KoenoKoeni dan destinasi keluarga yang variatif bikin Semarang makin layak dijadikan tujuan utama, bukan cadangan.
Nginep, Belajar, dan Jalan-Jalan: Cara Menikmati Semarang Lebih Santai
Kalau nanti kamu sempat nyobain nginep di hotel portal lintas waktu di Semarang ini, cara menikmatinya bisa pelan-pelan, nggak usah buru-buru. Di ruang publiknya, coba luangin waktu buat ngeliat detail barang antik dan baca atau dengar cerita di baliknya kalau tersedia.
Lalu, kamu bisa kombinasiin pengalaman di hotel dengan eksplor kota. Pagi atau sore, jalan kaki di Kota Lama, ajak teman atau keluarga sambil cerita singkat soal sejarah bangunan kolonial di sana. Dengan begitu, nuansa masa lalu di hotel nyambung sama yang kamu lihat di luar.
Di hari lain, kamu bisa ajak keluarga ke Saloka Theme Park atau Wonderia, supaya liburan nggak cuma foto dan kulineran. Dengan demikian, semua anggota keluarga punya momen favorit sendiri: anak dapat wahana, orang tua bisa menikmati suasana Semarang.
Kalau lagi irit, kamu bisa fokus ke spot-spot gratis atau murah: Kampung Batik, Kota Lama, dan Sam Poo Kong. Pengalaman budaya yang kamu dapat tetap kaya, walau pengeluaran nggak jebol.
Yang menarik, Semarang ini letaknya strategis banget di jantung Pulau Jawa. Jadi, kamu bisa aja bikin rute perjalanan yang nyambung ke Yogyakarta, Borobudur, atau Surakarta. Namun, bedanya sekarang, Semarang layak dijadikan base yang nyaman, bukan sekadar kota persinggahan.
Jadi, kalau selama ini kamu cuma berhenti sebentar di stasiun atau bandara Semarang dan langsung cabut, mungkin sudah waktunya kasih kota ini satu atau dua malam ekstra. Dengan hadirnya hotel portal lintas waktu di Semarang dan pilihan wisata yang makin variatif, pengalamanmu di kota ini bisa jauh lebih berkesan.
Simpan artikel ini sebagai referensi perjalanan berikutnya.