5 Kuliner Legendaris Tegal yang Wajib Kamu Cicipi

“Kalau ke Tegal cuma minum teh poci, sayang banget,” celetuk seorang abang ojek online yang sering nganter wisatawan keliling kota.

Dari obrolan ringan kayak gitu, aku makin sadar kalau kuliner legendaris Tegal tuh underrated abis. Banyak yang tahu Tegal itu kota bahari di pesisir utara Jawa Tengah, tapi belum tentu hafal makanan-makanan jadulnya yang sudah nemenin warga dari zaman kolonial.

Buat kamu yang suka jelajah rasa lokal dan doyan kuliner bersejarah, lima menu ini wajib banget masuk list. Semuanya masih eksis, rasanya konsisten, dan dekat banget sama kehidupan keseharian orang Tegal.

Sega Ponggol, Teman Lama Para Pekerja yang Jadi Idola Wisatawan

Kita mulai dari yang paling akrab buat warga: sega ponggol. Dulu, sega ponggol ini lahir buat para pekerja perkebunan tebu sebagai pengganjal perut.

Sekarang, posisinya naik kelas jadi buruan wisatawan yang pengen ngerasain nasi bungkus khas Tegal. Isinya kelihatannya simpel, tapi justru di situ asyiknya.

Sega ponggol itu nasi gurih yang disajikan bareng lauk tradisional seperti sambal goreng tempe, tahu, dan tempe orek. Semua kemudian dibungkus pakai daun pisang, jadi aromanya wangi banget dan bikin makan terasa hangat.

Beberapa warga sering nyebut tempat legendaris kayak Ponggole ZN Werkudoro di Jl. Werkudoro No. 47, Kramat, atau Sega Ponggol Godong Bu Ais. Di situ kamu bisa nemu lauk tambahan macam ikan, jengkol, sayur, orek, sampai gorengan.

Menariknya, dulu sega ponggol dikenal dengan nama “Ponggol Setan” karena dijual malam hari dan nemenin orang begadang. Sekarang, trennya agak geser, kamu udah bisa nemu sega ponggol mulai dari pagi sampai malam.

Harga umumnya masih ramah buat semua kalangan, jadi aman buat yang lagi hemat. Pada akhirnya, ini tipe sarapan dan makan malam yang terasa sangat lokal, nendang di rasa tapi tetap sederhana.

5 Kuliner Legendaris Tegal Lain yang Punya Cerita Panjang

Selain sega ponggol, ada beberapa kuliner legendaris Tegal lain yang nggak kalah kuat ceritanya. Dari sate sampai rujak sayur, semuanya punya karakter sendiri dan lahir dari kebutuhan hidup sehari-hari.

Biar lebih enak, kita bahas satu-satu, siapa tahu kamu bisa susun rute kuliner sendiri kalau mampir ke sini.

Pertama, ada sate kambing muda atau yang sering disebut balibul, singkatan dari kambing di bawah lima bulan. Di Tegal, masyarakat bangga banget sama sate model ini.

Daging kambing mudanya cenderung empuk, juicy, dan rasa khasnya keluar meski bumbu yang dipakai cukup sederhana. Biasanya sate disajikan dengan potongan daging yang besar, ditambah sambal kecap berisi bawang merah, cabai, dan tomat.

Nama yang sering disebut warga di antaranya Sate Kambing Sari Mendo di Jl. Teuku Umar No. 59, Debong Tengah. Warung ini sudah berdiri sejak 1980-an dan tiap hari bisa mengolah belasan ekor kambing muda.

Alternatif lain ada Sate Kambing Muda H. Suharto di Jalan Raya Talang, yang sekarang cabangnya sudah ada di berbagai kota. Warung sate kambing muda umumnya buka dari siang sampai malam, dengan harga yang menyesuaikan porsi dan bagian daging.

Berikutnya, kamu bisa coba kupat glabed. Ini salah satu ikon kuliner Tegal yang udah ada sejak awal abad ke-20. Nama “glabed” sendiri merujuk ke tekstur kuahnya yang kental dan agak nempel di mulut.

Satu porsi berisi ketupat yang disiram kuah santan kuning pekat penuh bumbu rempah. Di atasnya ada potongan tempe kecil dan sayuran, jadi tetap ada rasa gurih dan segar sekaligus.

Biasanya kupat glabed disajikan dengan pelengkap seperti kerupuk kuning, sate ayam, sate kerang, sate kikil, sampai sate blengong. Jadi, begitu kamu duduk, meja bisa langsung penuh tusukan sate.

Salah satu rujukan legendaris adalah Kupat Glabed Pak Makhali di kawasan Panggung, Tegal Timur, dekat Alun-alun PJKA Tegal. Katanya, kalau lagi Lebaran, warung ini rame banget sama perantau yang lagi mudik.

Lalu ada rujak teplak, yang cocok buat kamu pecinta sayuran dan sambal pedas asam manis. Rujak ini isinya aneka sayur segar seperti kangkung, tauge, daun pepaya, daun singkong, pare, mentimun, sampai jantung pisang.

Ciri khasnya ada di sambal gaul berbahan cabai, kacang, dan singkong. Kombinasi ini bikin rasa pedasnya beda, gurih tapi tetap ringan, jadi nagih tapi nggak bikin enek.

Warga Tegal sering rekomendasi Rujak Teplak Yu Pesek di Jl. Kapten Sudibyo, tepat di depan Samsat Kota Tegal, atau Rujak Teplak Bu Kapsah di depan Swalayan Mitra Kota Tegal.

Biasanya rujak teplak dijual dari siang sampai sore, dan porsinya melimpah dengan harga yang bersahabat. Dengan kata lain, ini cocok jadi menu selingan setelah kamu keliling kota.

Terakhir, tapi nggak kalah senior, ada nasi lengko. Buat pencinta makanan simpel dan cenderung sehat, nasi lengko ini enak banget nih buat sarapan atau makan siang ringan.

Satu porsi terdiri dari nasi putih, tahu goreng, tauge segar, irisan timun, lalu disiram bumbu kacang dan kecap manis. Secara tampilan, memang nggak heboh, tapi rasanya bersih, nyaman, dan bikin badan berasa enteng.

Nama yang sering muncul kalau tanya warga lokal adalah Warung Makan Pi’an (Warma Pi’an) di Jl. Kolonel Sudiarto, Slerok. Warung ini sudah menjual nasi lengko sejak 1926, jadi hampir seabad nemenin warga.

Ada juga Nasi Lengko “Lumayan” Bu Cas di Gang Kimto, Jl. A. Yani, dan Nasi Lengko Bu Setyo di Jl. Sawo Timur No. 38, Tegal Barat. Nasi lengko umumnya dijual dari pagi sampai siang, dengan harga yang sangat terjangkau, mulai dari ribuan rupiah per porsi.

Pada akhirnya, lima kuliner legendaris Tegal ini nunjukin gimana makanan bisa nyimpen sejarah, keseharian, dan kebiasaan satu kota. Dari sega ponggol sampai nasi lengko, semuanya tumbuh bareng cerita para pekerja, perantau, dan keluarga di Tegal.

Kalau kamu lagi susun itinerary, sisipkan waktu khusus buat jelajah lima menu ini. Jangan lupa, cek jam operasional dan harga terbaru agar rencana tetap lancar.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *