Pernah kepikiran makan bakso sambil kursinya bergetar karena kereta lewat persis di sampingmu? Itulah pengalaman yang bikin Bakso President Malang jadi beda sendiri di mata banyak orang.
Dari luar, tempatnya jauh dari kata fancy. Lokasinya di pinggir rel kereta api, rame, berisik, kadang harus geser dulu kalau ada kereta lewat. Tapi anehnya, justru di situ magisnya. Banyak orang rela antre lama demi semangkuk bakso di sini.
Bakso President: Dari Modal Dengkul ke Ikon Kota Malang
Buat yang belum tahu, Bakso President sudah eksis sejak 1977. Pendiri pertamanya, H. Abdul Ghani Sugito, atau biasa dipanggil Abah Sugito, awalnya bahkan cuma ikut jualan baksonya orang lain.
Waktu itu beliau nggak punya modal, nggak punya keahlian khusus, jadi ya yang bisa dilakukan cuma ikut gerobak orang demi bertahan hidup. Pelan-pelan, sekitar lima tahun keliling jualan di Malang, Abah mulai bisa kumpulin sedikit modal.
Nah, di tahun 1982, dia nekat buka warung tenda sendiri di belakang Bioskop President, Malang. Dari situlah nama Bakso President lahir dan nempel sampai sekarang. Lokasi awal ini yang akhirnya berkembang jadi warung di pinggir rel kereta api yang terkenal itu.
Kalau ngomong strategi marketing kekinian, lokasi Bakso President ini sebenarnya “salah” banget. Nggak nyaman, bising, jaraknya cuma sekitar dua meter dari rel. Saat kereta lewat, bangku pelanggan bergetar, dan kadang orang harus geser dulu dari pinggir demi aman.
Tapi, di sisi lain, justru keanehan inilah yang bikin orang penasaran. Cerita “makan bakso di pinggir rel” itu gampang nyangkut di kepala, gampang diceritain ke teman. Jadi walau secara teori lokasi kurang strategis, secara cerita justru kuat banget.
Ujung-ujungnya, pelanggan tetap membludak. Di hari-hari ramai, kadang orang bisa nunggu sampai 1,5 jam buat dapat pesanan. Saat musim liburan, mereka bisa jual sampai sekitar 2.000 mangkuk dalam sehari. Kebayang kan rame-nya seperti apa.
Menu, Eksperimen Bakso Bakar, dan Rahasia Rasa yang Dijaga
Yang bikin Bakso President nggak cuma sekadar viral lokasi, tentu saja rasanya. Sejak awal, mereka selalu menomorsatukan kualitas dan konsistensi. Ini kelihatan dari cara generasi kedua mengelola usaha, salah satunya lewat standar operasional yang rapi.
Menurut HM Ali Wahdani, atau Dani, yang sekarang jadi manajer operasional, semua sudah dihitung: setiap hari mereka tentukan berapa banyak bakso yang diproduksi. Jadi, bakso yang sampai ke meja pelanggan selalu fresh, dibuat di hari yang sama.
Varian menunya juga nggak pelit. Di sini kamu bisa nemu bakso besar, bakso kecil, bakso urat, bakso telur, bakso ati ampela, bakso paru, bakso keripik, siomay goreng, siomay basah, sampai goreng udang. Jadi, buat yang suka eksplor rasa, lumayan menyenangkan.
Tapi bintang utamanya jelas: bakso bakar. Banyak food vlogger dan pelanggan yang merekomendasikan menu ini. Bakso dibakar dengan bumbu kecap sampai warnanya cokelat gelap menggoda, terus aromanya smokey manis-gurih.
Ternyata, munculnya bakso bakar ini hasil eksperimen panjang. Dulu, H. Rokhman Aji, anak Abah Sugito yang sekarang nerusin usaha, sering eksperimen bareng teman-teman masa remajanya, termasuk Dani. Mereka coba-coba bikin bakso dibakar dengan berbagai macam kecap.
Serunya, mereka sampai nyusun blind test. Ada delapan merek kecap yang dijadiin kandidat. Dicicip satu-satu dalam kondisi mata tertutup, baik kecap murni maupun kecap yang sudah dicampur bumbu lain. Hasil akhirnya selalu sama: yang paling cocok buat bakso bakar versi mereka adalah Kecap Bango.
Sejak sekitar 1998, kecap itu dipakai terus buat bakso bakar Bakso President. Menurut pengalaman mereka, kecap ini kental, jadi saat dibakar dia jadi karamel cantik dengan warna dark brown yang menarik. Rasa asin-gurih asli baksonya masih kerasa, nggak ketutup manis berlebihan.
Selain itu, karena teksturnya kental, bumbu nggak gampang netes ke bara dan jadi boros. Secara praktik di dapur, ini penting banget. Di sisi lain, buat pelanggan yang suka rasa kuah lebih manis, kecap ini juga sering dipakai jadi campuran kuah atau cocolan gorengan.
Dengan memahami proses panjang ini, kebayang kan kalau rasa bakso bakar mereka tuh bukan sekadar “ditambah kecap lalu dibakar”, tapi hasil eksperimentasi bertahun-tahun dan trial-error yang nggak sedikit.
Dari Antrean di Pinggir Rel ke Frozen Food dan Customer Service Serius
Bakso President sekarang sudah berumur lebih dari 40 tahun. Selain outlet pusat di pinggir rel, mereka juga punya dua cabang lain di Malang: di Pulosari dan Pandean. Meski outlet nambah, mereka milih tetap fokus di satu kota.
Dani cerita, generasi kedua ini banyak berbenah di sisi manajemen. Misalnya, soal pelayanan pelanggan. Mereka percaya sikap ramah itu kunci biar orang mau balik lagi. Jadi, kalau ada komplain, nggak dilempar-lempar ke staf bawah.
Justru Dani sendiri yang langsung turun tangan. Biasanya dia akan hubungi pelanggan, minta maaf, dan lurusin masalahnya. Menariknya, sering kali orang yang awalnya komplain malah jadi pelanggan setia setelah diajak ngobrol baik-baik.
Lalu, gimana mereka bertahan di masa pandemi, ketika banyak tempat makan megap-megap? Omzet Bakso President sempat turun sekitar 40%. Berat, tapi di saat kepepet itu mereka justru nemu jalan baru: jualan bakso dalam bentuk frozen food.
Mereka pakai teknologi vacuum buat jaga ketahanan dan kebersihan produk. Dengan cara ini, risiko kontaminasi bakteri bisa dikurangi dan baksonya tahan lebih lama. Hasilnya cukup mengejutkan buat mereka sendiri.
Dani bilang, sebelum ada frozen food, stok satu paket bumbu di cabang bisa kepakai buat seminggu. Setelah frozen food jalan, stok yang sama habis dalam 2-3 hari. Artinya, pasar mereka meluas, bukan cuma buat orang yang datang ke warung.
Frozen food ini bahkan sempat dikirim ke luar negeri, kayak Singapura dan Australia. Jadi, buat perantau yang kangen rasa Bakso President, sekarang ada cara lain buat “pulang” lewat rasa, walaupun badan nggak bisa pulang ke Malang.
Di sisi lain, mereka juga mulai serius soal standar kebersihan. Beberapa karyawan sudah ikut uji sertifikasi food safety dari pemerintah Malang. Orang-orang yang lulus kemudian jadi semacam “agent” di internal, ikut ngajarin teman-teman kerjanya tentang sanitasi, dapur aman, dan penyimpanan makanan yang benar.
Dengan semua langkah ini, jelas kelihatan kalau Bakso President nggak cuma mengandalkan nostalgia atau cerita unik di pinggir rel. Mereka terus ngulik cara baru, dari menjaga SOP, ramah ke pelanggan, sampai nyari jalur penjualan lain.
Pada akhirnya, Bakso President jadi contoh menarik buat UMKM kuliner yang mau panjang umur. Mereka punya beberapa prinsip simpel: temukan hal unik yang bisa diceritakan, jaga rasa dengan resep yang konsisten, berani eksperimen selama masih sesuai selera pasar, tangani komplain dengan serius, dan buka jalur baru seperti frozen food.
Buat kamu yang lagi nyusun itinerary ke Malang, Bakso President bisa banget jadi salah satu destinasi kuliner wajib. Mungkin kamu akan kaget sama lokasi dan ramainya, tapi itu bagian dari pengalaman. Yang penting, selalu ingat satu hal: pantau info resmi dari pengelola atau dinas setempat sebelum berkunjung.
Kapan pun akhirnya kamu duduk di kursi pinggir rel, mangkuk bakso di depanmu, dan kereta melintas bikin sendok bergetar, di situlah kamu paham kenapa nama Bakso President nempel kuat sebagai ikon kuliner Kota Malang.