Telur Gulung Rp 2.000 Jailani, Cerita Samarinda yang Real

street food

Kalau dengar jajanan telur gulung Rp 2.000, kebayangnya apa? Buat banyak orang kota besar, mungkin cuma camilan receh yang sering disepelekan. Murah, gampang ditemui, dan kadang dianggap “ya udah lewat aja”.

Ternyata, di balik satu tusuk telur gulung di Samarinda, ada cerita hidup yang lumayan nyelekit. Di Jalan Biawan, satu gerobak kecil jadi tumpuan satu keluarga buat bertahan hari demi hari.

Kisah Jailani di Samarinda: Dari Kuli Bangunan ke Gerobak Telur Gulung

Sore di Jalan Biawan, Samarinda, suasananya santai tapi tetap hidup. Di salah satu sudut jalan, Jailani, usia 31 tahun, berdiri di belakang gerobak sederhana. Di situ ada wajan, tusuk bambu, telur, dan sosis yang sudah disiapkan rapi.

Dulu, sebelum kenal telur gulung, dia kerja serabutan. Pernah jadi kuli bangunan, pernah ambil kerja apa saja yang ada. Penghasilan nggak jelas, kadang ada, kadang kosong. Dari situ muncul keinginan kuat: gimana caranya bisa punya usaha sendiri.

Pelan-pelan, Jailani belajar bikin telur gulung dari Youtube. Nggak ikut kursus mahal, nggak punya modal besar. Hanya modal kuota internet, niat, dan wajan panas di gerobak kecil. Dari empat tahun lalu sampai sekarang, dia tetap setia di jalur yang sama.

Menurut dia, usaha sendiri itu bikin rasa tenang beda. “Kalau kita bisa sendiri, kan lebih enak,” begitu katanya. Sederhana, tapi kerasa banget vibe orang yang pengin berdiri di atas kaki sendiri, meski dagangannya cuma dianggap jajanan pinggir jalan.

Telur Gulung Rp 2.000: Murah buat Kita, Taruhan Hidup buat Dia

Sekilas, harga telur gulung Rp 2.000 per tusuk kelihatan standar. Buat banyak anak sekolah, harga segitu masih kejangkau. Buat kita yang kerja, mungkin seringnya nggak kepikiran berapa susahnya jualan dengan harga segitu.

Di dapur kontrakannya, sejak sekitar tengah hari, Jailani dan istrinya sudah mulai gerak. Telur dikupas, sosis dipotong, bumbu diracik. Semua dikerjain bareng, jadi ini beneran usaha keluarga, bukan sekadar dagangan satu orang.

Masuk sore, sekitar pukul 16.00 Wita, gerobak mereka sudah siap di Jalan Biawan. Sampai sekitar pukul 22.00 Wita, mereka nunggu pembeli. Menariknya, dia punya batas jelas: laku atau nggak laku, tetap tutup jam sepuluh malam.

Penghasilannya fluktuatif. Kadang bawa pulang sekitar Rp 200.000 sampai Rp 250.000 per hari. Kalau lagi rame banget, bisa tembus Rp 380.000 sehari. Nggak besar, apalagi kalau dipecah buat sewa kontrakan, kebutuhan dua anak, dan makan sekeluarga.

Tapi buat dia, selama masih bisa masak nasi dan lauk sederhana, itu sudah cukup. “Cukup buat makan,” ucapnya singkat. Di sini kerasa banget kontrasnya: buat sebagian orang, Rp 200.000 bisa habis di sekali nongkrong, sementara buat Jailani itu hasil kerja 6 jam lebih berdiri di pinggir jalan.

Meski begitu, pasti ada momen capek. Jailani sempat terpikir berhenti jualan. Mungkin karena lelah, mungkin karena jenuh sama penghasilan yang nggak pasti. Namun, di sisi lain, ada suara yang bikin dia bertahan: dukungan istrinya yang minta dia terus usaha.

Dukungan kayak gini sering luput dari cerita sukses yang biasa kita dengar. Padahal, di balik gerobak kecil, ada kerja tim yang nggak kelihatan, tapi krusial banget.

Belajar Ngargain Pedagang Kecil dari Gerobak di Jalan Biawan

Kalau lagi jalan-jalan ke Samarinda dan lewat Jalan Biawan, gerobak telur gulung kayak punya Jailani mungkin bakal kelihatan biasa. Namun, dengan sedikit lebih peka, kita bisa lihat itu bukan cuma tempat jual jajanan, tapi juga sumber nafkah satu keluarga.

Di satu sisi, telur gulung Rp 2.000 ini bikin jajanan tetap ramah di kantong. Apalagi buat anak-anak sekitar yang mungkin duit jajan hariannya terbatas. Di sisi lain, harga segitu bikin margin untung pedagang tipis, apalagi kalau bahan naik dan pembeli sepi.

Dengan memahami realita ini, cara kita memandang pedagang kaki lima bisa pelan-pelan berubah. Beli satu-dua tusuk mungkin terasa kecil, tapi buat mereka, itu tetap bagian dari pemasukan harian yang dihitung serius.

Buat aku pribadi, kisah Jailani bikin mikir ulang soal kebiasaan sepele kayak nawar terlalu sadis, atau nggak sabar kalau pesanan lama. Di gerobak kecil, semua dikerjakan manual, sambil pedagangnya mikirin anak di rumah dan uang sewa kontrakan.

Pada akhirnya, cerita dari Samarinda ini relevan juga buat kota lain. Di tiap sudut jalan, selalu ada versi “Jailani” lain dengan dagangan berbeda. Ada yang jual cilok, es teh, bakso tusuk, sampai gorengan tengah malam.

Saat kita mampir beli, mungkin sesekali bisa tanya singkat, sambil tetap sopan, tentang sejak kapan mereka jualan atau gimana hari itu. Nggak harus berlebihan, tapi kecil-kecil kayak gitu bisa bikin hubungan antara pembeli dan pedagang lebih manusiawi.

Kalau suatu hari kamu lagi lewat Jalan Biawan dan nemu gerobak telur gulung Rp 2.000, mungkin itu gerobak Jailani. Ambil napas sebentar, lihat proses dia bikin jajanan yang dulu dipelajarinya dari Youtube, dan bayangin perjalanan empat tahun terakhir yang dia lalui.

Dengan begitu, jajanan pinggir jalan yang kamu pegang di tangan bukan cuma soal rasa, tapi juga cara kecil buat nyambung ke realita hidup orang lain di kota yang sama. Dan di penutup cerita ini, satu hal simpel yang masih perlu diingat: cek jam operasional dan harga terbaru agar rencana tetap lancar.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.