Gunung Burni Telong: Pendakian Cepat di Negeri Awan Gayo

Nama Gunung Burni Telong mungkin belum seviral gunung-gunung populer di Jawa, tapi di kalangan pendaki Sumatra, ini salah satu destinasi andalan.

Gunung api aktif setinggi kurang lebih 2.617 mdpl di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, ini punya satu keunggulan yang bikin banyak orang penasaran.

Jalurnya relatif singkat, tapi view yang dikasih tuh berasa paket lengkap: kebun kopi Gayo, hutan tropis, padang edelweis, sampai sunrise di atas lautan awan.

Buat yang pengin ngerasain sensasi negeri di atas awan tanpa harus naik berhari-hari, Burni Telong nih cocok banget.

Kenapa Pendakian Gunung Burni Telong Cocok Buat Weekend Getaway?

Pertama-tama, soal durasi pendakian dulu.

Dibanding gunung lain di Sumatra yang tingginya mirip, jalur utama Gunung Burni Telong ini terhitung pendek.

Dari basecamp resmi di Desa Rembune, waktu tempuh ke puncak biasanya sekitar 2,5 sampai 4 jam saja.

Jadi, cukup realistis kalau kamu mau naik-turun dalam satu hari alias tektok, apalagi kalau fisik lagi oke.

Tapi, jangan kebayang jalurnya santai-santai banget ya.

Meski nggak lama, trek tetap didominasi tanjakan tanah dan akar, dan menjelang puncak tanjakannya lumayan nguras nafas.

Di sini ritme jalan dan manajemen energi penting, terutama kalau kamu jarang olahraga.

Namun justru perpaduan jalur singkat tapi menantang ini yang bikin banyak pendaki ngerasa puas tanpa harus cuti panjang.

Secara lokasi, Gunung Burni Telong ada di Bener Meriah, sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Simpang Tiga Redelong.

Akses jalur pendakian yang paling populer lewat Desa Rembune di Kecamatan Wih Pesam.

Jalur ini dikelola pemuda setempat, jadi selain aman dan jelas, kamu juga ikut ngasih pemasukan langsung ke warga lokal.

Dengan memahami pola pendakian yang ringkas ini, kamu bisa nyusun itinerary singkat: datang, mendaki, terus lanjut santai explore Dataran Tinggi Gayo.

Rute Pendakian: Dari Kebun Kopi Gayo Sampai Padang Edelweis

Begitu sampai di basecamp Desa Rembune, semua pendaki wajib registrasi dulu.

Kamu akan diminta isi data diri, bayar simaksi, dan dengerin pengarahan soal tata tertib di Gunung Burni Telong.

Bagian ini jangan disepelekan, karena info dari petugas pos biasanya update soal kondisi jalur dan status aktivitas gunung.

Di area basecamp sendiri fasilitasnya udah lumayan: ada area parkir, toilet umum, mushola, sampai warung makan warga buat isi energi sebelum nanjak.

Begitu mulai jalan, suasananya langsung kerasa khas Gayo.

Trek awal akan melewati hamparan perkebunan kopi arabika yang jadi kebanggaan masyarakat sekitar.

Kalau kamu datang pas musim panen, kamu bisa lihat aktivitas petani lagi panen dan mengolah kopi.

Selain fotogenik, momen ini juga lumayan bikin mikir ulang soal secangkir kopi Gayo yang sering kita nikmati di kota.

Pelan-pelan jalur masuk ke kawasan hutan.

Di sini udara makin sejuk, pohon makin rapat, dan tanjakan mulai kerasa.

Sesekali, coba berhenti sebentar buat dengerin suara hutan, karena suasana tenang begini jarang banget di kota.

Namun, tetap jaga ritme supaya nggak terlalu banyak istirahat dan kehabisan waktu sebelum sunrise.

Menjelang area puncak, sekitar Pos 3 ke atas, suasana berubah lagi.

Kamu bakal ketemu padang Bunga Edelweis (Anaphalis javanica) yang tumbuh alami.

Ini salah satu highlight Gunung Burni Telong yang sering jadi spot foto favorit.

Tapi penting banget diingat: jangan petik edelweis dan jangan injak sembarangan.

Bunga ini statusnya dilindungi dan tumbuhnya sangat lambat, jadi lebih bijak kita nikmati dari jauh lewat foto dan pandangan mata.

Selain keindahannya, ada hal lain yang perlu diperhatiin.

Gunung Burni Telong adalah gunung api aktif bertipe stratovolcano.

Memang aktivitasnya cenderung tenang dan dipantau rutin oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), tapi tetap saja, sebelum naik kamu wajib cek statusnya.

Kalau perlu, konfirmasi lagi ke pengelola basecamp atau pos pendakian, supaya perjalanan tetap aman.

Sunrise di Atas Awan dan Waktu Terbaik Menikmati Burni Telong

Alasan terbesar orang jauh-jauh datang ke Gunung Burni Telong adalah momen sunrise-nya.

Saat cuaca bagus, langit bakal pelan-pelan berubah dari gelap ke semburat jingga keemasan.

Di bawah, lembah tertutup lautan awan tebal, sementara di kejauhan siluet pegunungan Aceh Tengah dan Bener Meriah keliatan memanjang.

View ini yang sering bikin pendaki bilang pendakian singkat Burni Telong benar-benar “worth it”.

Biar bisa ngejar sunrise, banyak pendaki milih start dari basecamp sekitar jam 02.00–03.00 WIB.

Dengan tempo jalan santai tapi stabil, kamu bisa sampai puncak sebelum matahari nongol.

Tentu saja, pendakian subuh begini butuh persiapan ekstra: lampu kepala yang terang, jaket hangat, dan mental buat ninggalin kasur tengah malam.

Namun, justru sensasi jalan di gelap dengan lampu-lampu kecil dari rombongan pendaki lain yang bikin suasana makin seru.

Soal musim, waktu paling ideal buat mendaki Gunung Burni Telong adalah saat musim kemarau, sekitar Juni sampai September.

Di periode ini, jalur tanah biasanya nggak terlalu licin dan peluang dapat langit cerah tanpa kabut tebal jauh lebih besar.

Meski begitu, cuaca di gunung tetap susah ditebak.

Jadi, kalaupun kamu dapat kabut tebal atau gerimis ringan, coba nikmati aja suasananya, selama masih aman.

Buat yang pengin extend liburan, di sekitar Dataran Tinggi Gayo ada beberapa opsi penginapan nyaman.

Ada Hotel Grand Bayu Hill dengan fasilitas kamar lengkap, mulai AC, TV, Wi-Fi, sampai beberapa tipe kamar yang punya bathtub.

Untuk tarif, kisaran awalnya sekitar Rp500 ribuan per malam.

Portola Grand Renggali Hotel juga bisa jadi pilihan, dengan tarif mulai sekitar Rp400 ribuan dan fasilitas kamar seperti AC, Wi-Fi, dan beberapa kamar dengan balkon atau jendela besar.

Kalau cari yang lebih terjangkau, ada Al Fattah Hotel, Cafe & Meeting Room dengan tarif sekitar Rp300 ribuan per malam.

Fasilitasnya memang nggak ala hotel mewah, tapi cukup buat istirahat tenang: ada TV, Wi-Fi, meja kerja, dan kamar mandi pribadi.

Dengan kombinasi pendakian di Gunung Burni Telong dan penginapan nyaman di sekitarnya, kamu bisa bikin short escape ke Gayo yang terasa padat tapi tetap santai.

Setelah turun gunung, kamu juga bisa lanjut jalan ke beberapa spot ikonik Dataran Tinggi Gayo.

Ada Danau Laut Tawar di Aceh Tengah yang jaraknya sekitar satu jam-an dari Burni Telong, enak buat santai di tepi danau sambil cobain kuliner lokal.

Lalu ada gardu pandang di perbukitan Takengon yang kasih view Danau Laut Tawar dan kota dari ketinggian.

Jangan lupa sempatkan mampir ke kedai atau perkebunan kopi lokal di Bener Meriah buat lihat langsung proses pascapanen kopi arabika Gayo.

Pada akhirnya, Gunung Burni Telong itu paket lengkap: jalur ringkas, suasana hutan yang masih asri, padang edelweis yang fotogenik, sunrise di atas lautan awan, plus bonus kebun kopi Gayo di kaki gunung.

Kalau kamu lagi cari destinasi hiking yang nggak makan banyak hari tapi tetap berkesan, Gunung Burni Telong layak banget masuk list.

Simpan artikel ini sebagai referensi perjalanan berikutnya.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *