Siang di Pasar Baru, Jakarta Pusat, deretan toko lawas bercampur dengan ruko kekinian. Di tengah riuh suara pedagang dan lalu-lalang orang, kompleks Antara Heritage Center berdiri tenang, kayak penjaga memori kota yang udah lihat banyak hal sejak awal abad ke-20.
Dari luar, bangunannya kelihatan fresh, cat rapi, detail arsitektur jelas, tapi vibe tuanya masih kerasa. Ini bikin penasaran banget, soalnya jarang ada tempat bersejarah di Jakarta yang direvitalisasi tanpa kehilangan ruh aslinya.
Buat kamu yang suka eksplor kota, Antara Heritage Center (AHC) ini underrated abis sebagai destinasi wisata budaya. Di sini, kita nggak cuma lihat bangunan tua, tapi juga jejak perjalanan panjang jurnalistik Indonesia.
Kenapa Revitalisasi Antara Heritage Center Tetap Terasa Asli?
Sebelum ganti nama jadi Antara Heritage Center, banyak orang lebih kenal tempat ini sebagai Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA). Namun sekarang fungsinya lebih luas, meski satu hal tetap: nuansa sejarahnya dijaga ketat.
Secara arsitektural, kompleks ini terdiri dari tiga bangunan utama yang tiap sudutnya punya cerita berbeda. Ada bekas Kantor Berita Domei dari era pendudukan Jepang, Gedung Adam Malik yang dulunya kuil Sikh India, dan Gedung Griya Aneta yang pernah jadi kantor berita Belanda. Jadi, dalam satu area kecil, kamu bisa ngerasain lapisan-lapisan sejarah yang saling numpuk.
Yang bikin AHC beda, revitalisasinya dilakukan dengan patokan jelas sebagai Cagar Budaya Kelas A. Artinya, pengelola nggak bisa asal ubah bentuk atau bongkar sana-sini. Menurut Sofia Prameswari dari Antara Heritage Center, bentuk bangunan dikembalikan seperti semula, cuma diperbaiki. Jadi, ini bukan renovasi gaya bebas, tapi beneran restorasi yang niat.
Bahkan detail material juga diperhatiin, termasuk penggunaan semen khusus yang diimpor dari Belanda. Di satu sisi ini kelihatan ribet, tapi di sisi lain, hal seperti ini yang bikin bangunannya tetap terasa orisinil, bukan sekadar replika versi modern.
Hal menarik lain, penambahan fasilitas AC jadi dilema sendiri. Namun akhirnya, AC dipasang dengan teknik khusus supaya dinding asli nggak rusak. Dengan begitu, pengunjung tetap nyaman, tapi struktur lama tetap aman. Plafon tinggi khas bangunan zaman Belanda juga tetap dipertahankan buat sirkulasi udara alami, jadi perpaduan lama dan baru terasa cukup seimbang.
Kalau kamu perhatiin, di banyak kota besar lain, bangunan tua sering berubah total jadi kafe atau hotel tanpa sisa identitas awal. Namun di Antara Heritage Center, arah revitalisasinya beda: fungsi diperbarui, tapi wujud dan ceritanya dijaga. Ini yang bikin tempat ini menarik buat kamu yang lagi belajar buat traveling lebih respect sama sejarah kota.
Dari Kantor Berita Lawas Jadi Ruang Publik: Apa Aja yang Bisa Dilihat?
Kawasan yang pembangunannya dimulai 1 April 1917 oleh Dominique Berretty ini awalnya memang terkait dunia pers dan kantor berita. Sekarang, tanpa menghilangkan fungsi inti itu, Antara Heritage Center dibuka lebih luas ke publik. Jadi, vibe-nya bukan museum kaku, tapi lebih ke ruang hidup yang punya aktivitas.
Fungsi utamanya sekarang terbagi beberapa. Pertama, sebagai museum sejarah Antara. Di sini, kamu bisa melihat bagaimana kantor berita nasional ini ikut mengiringi perjalanan Indonesia, mulai dari masa penjajahan sampai sekarang. Meskipun detail koleksi nggak dijelasin di sumber, konteksnya udah kerasa: ini saksi perjalanan jurnalistik Indonesia dari zaman radio sampai informasi digital.
Kedua, ada ruang direksi dan Lobi Adam Malik yang juga menarik secara simbolik. Nama Adam Malik sendiri identik dengan dunia pers dan politik Indonesia, jadi nuansa sejarahnya makin tebal. Transisi dari kuil Sikh India jadi bagian dari kompleks AHC juga nunjukin bagaimana Jakarta selalu jadi titik temu berbagai komunitas.
Ketiga, yang mungkin paling relevan buat anak muda kota: ada ruang pameran seni yang bisa diakses publik. Ini bikin Antara Heritage Center nggak terjebak jadi monumen masa lalu doang. Ruang seni ini bisa jadi tempat ketemu karya visual, foto, atau kegiatan kreatif lain yang nyambung dengan identitas Antara sebagai produsen konten.
Kalau kamu tertarik pakai ruang-ruang di AHC, pengelola udah nyiapin mekanisme khusus. Memang detail teknisnya nggak disebut di sumber, tapi jelas ada jalur resmi yang bisa diikuti. Ini penting, karena di satu sisi tempatnya heritage, di sisi lain harus tetap terjaga ketertiban dan kelestariannya.
Menariknya lagi, meski tampilan lebih rapi dan estetis, fungsi utama Antara sebagai kantor berita nasional nggak digeser. Di bawah koordinasi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Antara masih beroperasi sebagai produsen sekitar 1.500 konten per hari ke berbagai media di Indonesia. Jadi, ketika kamu main ke sini, kamu bukan cuma datang ke bangunan tua, tapi juga ke tempat yang masih aktif jadi pusat informasi.
Dari sini kelihatan, Antara Heritage Center bukan sekadar destinasi foto-foto instagramable. Ini contoh nyata bagaimana ruang kerja, museum, dan ruang seni bisa hidup bareng dalam satu kompleks bersejarah. Pada akhirnya, bentuk pengelolaan kayak gini bikin kita sebagai pengunjung diajak menghargai masa lalu, sambil nggak lupa kalau tempat ini masih punya peran penting hari ini.
Cara Menikmati Antara Heritage Center dengan Lebih Mindful
Kalau suatu hari kamu main ke Pasar Baru dan mutusin mampir ke Antara Heritage Center, ada beberapa hal yang bisa bikin kunjunganmu lebih berkesan. Pertama, coba lihat kompleks ini bukan cuma sebagai spot foto, tapi sebagai rangkaian cerita. Dari bekas Kantor Berita Domei sampai Griya Aneta, tiap gedung nunjukin fase berbeda dalam perjalanan Indonesia.
Kedua, perhatiin detail kecil yang sering kelewat. Misalnya, tekstur dinding yang dipertahankan, bentuk jendela tinggi, atau suasana lobi yang menggabungkan elemen lama dan baru. Dengan memahami upaya restorasi tadi, kamu jadi lebih ngeh kenapa status Cagar Budaya Kelas A itu penting buat menjaga identitas tempat ini.
Ketiga, kalau sempat ikut atau lihat kegiatan di ruang pameran seni, manfaatkan itu buat ngelihat bagaimana sejarah dan kreativitas sekarang bisa saling nyambung. Di sisi lain, tetap ingat ini masih area kerja aktif kantor berita, jadi jaga sikap dan suara biar nggak ganggu aktivitas orang yang lagi kerja.
Pada akhirnya, Antara Heritage Center itu contoh solid bagaimana bangunan bersejarah bisa tetap orisinil sambil relevan buat generasi sekarang. Buat kamu yang doyan eksplor kota, ini tipe destinasi yang pelan-pelan nambah wawasan, bukan cuma koleksi foto di galeri ponsel.
Kalau suatu hari kamu lagi cari tempat buat kenal sisi lain Jakarta yang lebih berlapis dan bersejarah, Antara Heritage Center layak banget masuk daftar. Datang ke sini kayak diajak mundur ke awal abad ke-20, tapi dengan fasilitas yang masih enak dinikmati hari ini. Simpan artikel ini sebagai referensi perjalanan berikutnya.