Kalau lagi bengong mikirin cuti, kamu juga kepikiran nggak: dari sekian banyak destinasi luar negeri, 3 negara tujuan turis Indonesia yang paling laris di travel agent itu apa aja sih, dan kira-kira cocok nggak buat kantong sendiri?
Dari obrolan sama beberapa travel consultant di ASTINDO Travel Fair 2025, kelihatan banget kalau minat liburan ke luar negeri udah naik lagi. Menariknya, pola pilihan negara tujuan turis Indonesia lumayan konsisten, dengan Asia masih jadi primadona dan ada selipan rasa penasaran ke pengalaman yang agak beda.
China Jadi Primadona: Rute Unik Sampai Paket “Satu Kota Aja”
Dari semua destinasi yang ditanya ke travel agent, China muncul terus sebagai jawaban favorit. Bukan cuma dari satu booth, tapi beberapa travel consultant kompak bilang paket ke sana laris banget sepanjang 2025.
Travel Consultant Dwidaya Tour, Kenny Robert, cerita kalau tur ke China di tempatnya biasanya pakai format 8 hari 7 malam. Buat yang mau eksplor lebih jauh, ada juga opsi 10 hari yang udah termasuk rute unik. Menurut dia, minat orang Indonesia ke China bukan cuma soal kota mainstream, tapi juga ke wilayah yang terasa beda vibe-nya.
Nah, rute unik yang dimaksud cukup bikin penasaran: Xinjiang, Kunming, Tibet, sampai Mongol di China. Kombinasi ini cocok buat kamu yang pengin lihat sisi lain China, bukan cuma gedung tinggi dan kota besar. Jadi, di satu negara, kamu bisa pindah suasana dari pegunungan, kota, sampai area yang nuansanya lebih budaya dan sejarah.
Dari sisi harga, Dwidaya Tour pasang paket wisata ke China mulai sekitar Rp 11,9 jutaan. Harga ini berlaku untuk tur grup dengan minimal empat orang. Buat standar tur luar negeri dengan rute lumayan jauh dan lama, paket ini kedengeran cukup masuk akal. Apalagi kalau kamu tipe yang mending ikut tur biar semua urusan transport dan itinerary udah beres.
Di sisi lain, Panorama JTB lewat Travel Consultant bernama Rina juga nyeritain tren yang mirip. Menurut dia, sepanjang 2025, paket wisata ke China tetap jadi incaran turis Indonesia. Bedanya, di sini ada opsi yang lebih simpel buat kamu yang baru pertama kali ke China atau pengin perjalanan yang nggak terlalu panjang.
Menurut Rina, paket paling murah di Panorama JTB mulai dari 8,9 jutaan untuk durasi enam hari. Fokusnya cuma di Beijing, satu kota aja. Ini cocok kalau kamu pengin tempo liburan yang lebih santai, nggak pindah-pindah kota, tapi tetap dapat pengalaman khas China dari satu titik utama. Dengan begitu, kamu bisa lebih dalam menikmati satu kota, bukan sekadar numpang foto.
Dengan pilihan model tur kayak gini, kamu bisa tinggal milih: mau rute panjang dan lintas daerah, atau yang singkat dan satu kota. Pada akhirnya, ini soal gaya jalan masing-masing dan berapa lama kamu bisa ambil cuti.
Kisaran Harga Paket dan Kapan Waktu Terbaik Berkunjung
Buat banyak dari kita, keputusan liburan itu nyangkut banget ke dua hal: biaya dan cuaca. Data dari travel agent tadi cukup membantu buat bayangin budget sekaligus nentuin kapan kira-kira waktu paling masuk akal buat berangkat.
Dari sisi harga, gambaran kasarnya gini:
- Paket China via Dwidaya Tour: mulai sekitar Rp 11,9 jutaan, durasi 8 hari 7 malam atau 10 hari, minimal 4 orang per grup.
- Paket China via Panorama JTB: mulai sekitar Rp 8,9 jutaan, durasi 6 hari, fokus di Beijing saja.
Angka ini tentu aja belum pasti sama persis di setiap periode, karena harga bisa berubah tergantung musim, promo, dan kebijakan maskapai atau hotel. Namun, setidaknya kamu punya patokan kasar buat mulai nabung atau bandingin dengan destinasi lain.
Untuk soal waktu terbaik berkunjung, ternyata pendapat para konsultan ini agak beda, dan itu justru bisa jadi bahan pertimbangan.
Rina dari Panorama JTB bilang, secara umum, wisata ke China bisa dilakukan hampir kapan saja sepanjang tahun. Tapi, kalau kamu mau menghindari cuaca panas, dia nyaranin datang di sekitar Maret–Mei, lalu lanjut lagi di akhir tahun sekitar Oktober–November. Periode ini biasanya lebih nyaman buat jalan kaki, eksplor kota, dan foto-foto tanpa kelihatan terlalu lelah.
Di sisi lain, Kenny dari Dwidaya Tour ngasih perspektif yang lebih terkait momen libur. Menurut dia, waktu terbaik berkunjung ke China berkisar di akhir Juni dan akhir Desember. Alasannya simpel: cocok dengan libur anak sekolah dan libur akhir tahun. Jadi, kalau kamu keluarga muda atau masih kuliah dan ngikutin kalender akademik, periode ini masuk akal banget.
Dengan memahami dua sudut pandang ini, kamu bisa milih: mau prioritas cuaca yang lebih adem, atau mau nyesuaiin sama kalender libur biar nggak ganggu sekolah dan kerja. Di sisi lain, perlu diingat juga, musim liburan biasanya bikin destinasi lebih ramai dan potensi harga lebih tinggi.
Gaya Liburan Turis Indonesia: Ramean, Terencana, Tapi Tetap Fleksibel
Dari cerita para travel agent tadi, kebaca sedikit pola gaya jalan turis Indonesia yang suka ke China dan negara lain di kawasan Asia. Banyak yang datang dalam bentuk grup kecil 4 orang, kadang keluarga, kadang geng temen. Format ini enak karena lebih rame, biaya bisa lebih kebagi, dan suasana perjalanan juga lebih hidup.
Tur grup dengan minimal empat orang juga biasanya bikin harga paket bisa ditekan dibanding kalau kamu jalan sendirian. Dengan itinerary yang sudah diatur, kamu nggak perlu pusing mikirin arah kereta, ngecek peta kota, atau bingung soal tiket masuk objek wisata. Namun, konsekuensinya, jadwal jadi lebih padat dan kurang fleksibel untuk eksplor sendiri.
Buat kamu yang biasa backpackeran atau jalan super bebas, model paket ini mungkin terasa agak ketat. Tapi, buat yang baru pertama kali coba destinasi seperti China, ikut tur bisa jadi cara aman dan nyaman buat pemanasan. Setelah itu, kalau sudah hafal ritme dan sistem kotanya, kamu bisa balik lagi dengan gaya jalan yang lebih mandiri.
Ternyata, pilihan 3 negara tujuan turis Indonesia yang paling laris di travel agent ini nggak cuma soal ikut tren. Banyak yang milih berdasarkan kombinasi harga, kenyamanan, dan kemudahan akses lewat paket yang sudah jadi. Pada akhirnya, destinasi yang lagi hits sekalipun tetap perlu disesuaikan sama ritme hidup dan prioritas kamu sendiri.
Sebelum fix booking atau berangkat, selalu sempatkan cek ulang info harga, aturan perjalanan, dan kondisi terbaru destinasi. Pantau info resmi dari pengelola atau dinas setempat sebelum berkunjung.