Bagaimana rasanya berjalan di satu kota yang pada malam yang sama diterangi pawai obor Ramadhan dan lampion Imlek? Di Pontianak, pemandangan ini sudah bukan cerita di media sosial, tapi pengalaman nyata yang dirasakan warga di jalan-jalan utama kota.
Dalam suasana Satu Langit Dua Cahaya di Pontianak, warga Muslim menyambut Ramadhan 1447 Hijriah, sementara warga Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. Keduanya tidak saling mengganggu, justru saling melengkapi sebagai wajah sehari-hari kerukunan di Kota Khatulistiwa.
Satu Langit Dua Cahaya: Pawai Obor dan Lampion Imlek di Malam yang Sama
Malam Senin, 16 Februari 2026, Pontianak seakan punya dua warna yang menyatu. Di sepanjang Jalan Ahmad Yani hingga Jalan Karet, barisan obor menyala rapat, bergerak perlahan dari halaman Masjid Raya Mujahidin. Anak-anak berjalan di samping orang tua mereka, sementara remaja masjid melantunkan selawat dengan suara yang menenangkan.
Di sela barisan itu, kelompok majelis taklim ikut mengatur ritme langkah. Suasana terasa religius, namun tetap cair dan akrab. Di sisi lain kota, tepatnya di kawasan Jalan Gajahmada, cahaya yang tampak berbeda menghiasi langit malam. Di sana, lampion merah digantung rapi di deretan ruko, menciptakan lorong cahaya yang hangat.
Suara takbir dari pawai obor bersahutan dari kejauhan dengan dentuman petasan dan kembang api perayaan Imlek. Namun, alih-alih saling menenggelamkan, suara-suara itu justru menjadi latar harmoni kota. Dengan begitu, warga yang melintas bisa merasakan dua suasana sekaligus tanpa harus memilih salah satu.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, melihat momen ini sebagai gambaran nyata toleransi warganya. Ia menekankan bahwa pawai obor dan perayaan Imlek berlangsung berdampingan tanpa gesekan. Menurutnya, keduanya adalah ekspresi budaya dan keyakinan yang sama-sama berhak hidup di ruang kota.
Dari Ahmad Yani ke Gajahmada: Wajah Kerukunan di Ruang Kota
Jika kita mengikuti rute pawai obor di Pontianak pada malam itu, kita akan melihat bagaimana ruang kota digunakan bersama. Jalan Ahmad Yani dan Jalan Karet dipenuhi warga yang menyambut Ramadhan dengan obor di tangan. Di sisi lain, Jalan Gajahmada bermandikan cahaya lampion merah, kembang api, dan suara riuh perayaan Imlek.
Tidak ada sekat yang memisahkan dua kawasan ini secara sosial. Warga yang selesai mengikuti pawai obor bisa saja lewat kawasan lampion, dan warga yang baru saja menikmati suasana Imlek dapat melintas di jalur pawai. Dengan cara itu, mereka saling melihat, saling menyadari keberadaan, dan perlahan saling memahami.
Pontianak memang kota yang sejak lama hidup dengan keberagaman. Kota ini dibelah Sungai Kapuas, namun kehidupan sosialnya tidak terbelah. Di Kecamatan Pontianak Barat, misalnya, Festival Pawai Obor 2026 juga digelar meriah. Peserta berjalan dari Jalan Karet menuju GOR Bulu Tangkis di Jalan Tabrani Ahmad.
Di sepanjang rute, warga menonton dari pinggir jalan, sebagian mendokumentasikan dengan ponsel, sebagian lagi hanya berdiri menikmati suasana. Dengan demikian, festival tidak hanya menjadi milik peserta, tapi juga milik penonton yang berasal dari latar belakang berbeda. Di sinilah, perayaan Ramadhan dan Imlek bertemu dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya dalam slogan.
Namun, Edi juga mengingatkan pentingnya ketertiban dan keselamatan. Pawai obor yang melibatkan banyak orang harus tetap memperhatikan lalu lintas dan keamanan di jalan raya. Dengan mengatur barisan, menjaga anak-anak tetap dekat orang tua, dan mematuhi arahan petugas, kedamaian yang dirayakan di jalan juga terasa aman bagi semua.
Dari Tradisi ke Daya Tarik Kota: Peran Komunitas dan Harapan ke Depan
Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan, memandang Satu Langit Dua Cahaya di Pontianak bukan hanya sebagai momen religius, tetapi juga sebagai potensi wisata berbasis kearifan lokal. Menurutnya, pariwisata di Pontianak tidak harus fokus pada hiburan semata. Justru, pengalaman yang bertumpu pada nilai religi, budaya, dan kebersamaan masyarakat bisa menjadi daya tarik yang kuat.
Dalam pandangannya, momentum Ramadhan bisa mendorong ekonomi kreatif tanpa mengurangi kesakralan ibadah. Misalnya, pedagang kecil di sekitar rute pawai bisa ikut merasakan manfaat dari ramainya warga yang datang. Di sisi lain, pelaku usaha yang ikut meramaikan kawasan lampion juga mendapat kesempatan serupa dari pengunjung perayaan Imlek.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Pontianak, Rizal Al Mutahar, menegaskan bahwa kunci utama tradisi ini adalah keterlibatan komunitas. Remaja masjid, kelompok pengajian, panitia lokal, dan warga sekitar semua ambil bagian. Dengan begitu, acara tidak bergantung pada satu pihak saja, melainkan tumbuh dari bawah.
Rizal berharap kegiatan seperti pawai obor bisa digelar lebih merata di setiap kecamatan. Dengan cara itu, semarak Ramadhan dan suasana kebersamaan tidak hanya terpusat di beberapa titik kota. Selain itu, silaturahmi antarwarga ikut menguat, karena mereka merasa sama-sama memiliki acara tersebut.
Malam itu, obor dan lampion menjadi metafora yang sangat jelas tentang kebersamaan di Pontianak. Cahaya yang berbeda, bentuk yang berbeda, dan tradisi yang berbeda, namun semuanya sama-sama menerangi. Ternyata, suara takbir dan gemuruh kembang api bisa hidup di langit yang sama tanpa harus saling bersaing.
Pada akhirnya, Pontianak mengingatkan kita bahwa kerukunan tidak selalu lahir dari kesamaan, tetapi dari kesediaan untuk hidup berdampingan. Bagi pembaca yang suatu hari ingin menyaksikan langsung Satu Langit Dua Cahaya di Pontianak, ingatlah untuk datang sebagai tamu yang menghormati tuan rumah: jaga ketertiban, hormati ibadah, dan nikmati keberagaman dengan hati terbuka. Cek jam operasional dan harga terbaru agar rencana tetap lancar.