Pohon Cair ITB: Mikroalga Penangkap Karbon dari Bandung

microalgae

Di sebuah sudut kampus di Bandung, gagasan tentang pohon cair sedang diuji pelan-pelan. Bukan deretan pepohonan rindang, melainkan kumpulan mikroalga yang bekerja senyap menangkap karbon dari udara. Di kota yang kian padat dan penuh bangunan, ide ini terasa dekat dengan kenyataan sehari-hari.

Di tengah kemacetan dan asap kendaraan di jalan-jalan Bandung, muncul pertanyaan yang mengusik: jika lahan untuk menanam pohon semakin terbatas, bagaimana cara kita tetap mengurangi emisi karbon? Dari ruang riset di Institut Teknologi Bandung, jawaban alternatif mulai dirintis lewat teknologi berbasis mikroalga.

Pohon Cair ITB dan Ringkasan Konteks Utama

Istilah pohon cair merujuk pada penggunaan mikroalga dalam sistem tertutup, sering disebut phototank, untuk menyerap karbon dioksida. Di ITB, riset ini dikembangkan oleh Alfredo Kono, dosen peneliti dari Pusat Penelitian Biosains dan Bioteknologi FMIPA. Ia fokus pada pengembangan mikroalga lokal sebagai penangkap CO2.

Secara sederhana, mikroalga melakukan fotosintesis seperti tanaman lain. Namun, menurut Alfredo, laju pertumbuhan mikroalga jauh lebih cepat dibanding pohon di darat. Dengan demikian, mikroalga berpotensi merespons krisis iklim dengan tempo yang lebih singkat.

Selama ini, pohon kerap dijadikan simbol utama solusi penyerapan karbon. Akan tetapi, pohon membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum dapat menyerap karbon secara optimal. Sementara itu, laju emisi terus meningkat, terutama di kota-kota besar yang padat aktivitas.

Di sinilah pohon cair mencoba menawarkan jalur lain. Bukan untuk menggantikan hutan dan pepohonan, melainkan menambah pilihan, terutama di kawasan yang sulit menyediakan ruang hijau luas. Dengan memahami posisi ini, kita bisa melihat teknologi ini lebih jernih dan tidak berlebihan.

Fakta Penting: Mikroalga, Phototank, dan Laju Pertumbuhan

Menurut Alfredo, kekuatan mikroalga ada pada ukurannya yang sangat kecil namun dengan kemampuan penyerapan karbon yang tinggi. Ia menjelaskan bahwa mikroalga bisa bertumbuh lebih cepat daripada tanaman darat. Pertumbuhan yang cepat ini membuat siklus penyerapan CO2 bisa diulang dalam waktu singkat.

Jika pohon membutuhkan waktu lama sampai tumbuh besar, berdaun lebat, dan fotosintesisnya optimal, mikroalga berbeda. Dalam hitungan satu sampai dua hari, mikroalga sudah bisa terbentuk dan berkembang dalam sistem budidaya yang tepat. Perbedaan waktu ini, meski terdengar sederhana, sangat signifikan ketika dikaitkan dengan urgensi krisis iklim.

Selain itu, mikroalga dapat hidup dalam beragam kondisi. Ia hanya memerlukan mineral dan karbon dioksida untuk bertahan dan berkembang. Dengan kata lain, mikroalga cukup lentur menyesuaikan diri, selama lingkungan dasarnya mendukung.

Di sisi lain, phototank sebagai medium budidaya memungkinkan sistem ini ditempatkan di area terbatas. Tangki-tangki tertutup dapat diatur dalam ruang yang relatif kecil. Karena tidak mengandalkan lahan luas, konsep ini memberi harapan bagi lingkungan yang didominasi beton dan aspal.

Namun, penting juga mengingat bahwa riset ini masih dalam tahap pengembangan. Tantangan teknis, kebutuhan energi, hingga biaya pemeliharaan tentu tetap ada. Dengan menyadari hal ini, kita bisa menempatkan pohon cair sebagai kemajuan besar yang masih terus diuji, bukan solusi instan yang menyapu semua masalah.

Konteks Lokal: Bandung dan Potensi Manfaat bagi Kota-Kota Indonesia

Bandung, sebagai kota kampus sekaligus kota niaga, menghadapi dilema yang akrab di banyak wilayah Indonesia. Di satu sisi, kebutuhan ruang hijau terus disuarakan. Di sisi lain, tekanan pembangunan hunian, pusat belanja, dan infrastruktur membuat lahan kosong semakin menyempit.

Pada situasi seperti ini, pohon cair terasa relevan. Ia membuka kemungkinan penyerapan karbon di lokasi-lokasi yang sulit ditanami pohon, misalnya area sekitar gedung tinggi atau fasilitas tertutup. Tentu saja, ini bukan pengganti taman kota, melainkan tambahan ruang kerja bagi proses fotosintesis.

Jika suatu hari teknologi ini lebih matang, kita bisa membayangkan phototank mikroalga dipasang di dekat sumber emisi. Misalnya, di sekitar kawasan industri, koridor lalu lintas padat, atau area parkir besar. Sekali lagi, ini masih imajinasi yang bertumpu pada riset awal, namun arah pemikirannya terasa dekat dengan kebutuhan banyak kota.

Di luar fungsi lingkungan, pengembangan pohon cair di ITB juga memberi makna lain: penguatan kapasitas riset lokal. Ketika peneliti seperti Alfredo memilih mikroalga lokal, ada upaya untuk menyambungkan sains dengan kekayaan hayati Indonesia sendiri. Dengan begitu, kita tidak hanya mengadopsi teknologi, tetapi juga membangunnya dari sumber daya yang kita pahami.

Bagi masyarakat luas, informasi seperti ini bisa mengubah cara pandang terhadap isu iklim. Ternyata, upaya merespons krisis tidak hanya datang dari konferensi global atau kebijakan pusat. Ada kerja-kerja senyap di laboratorium kampus, yang perlahan mencari cara praktis untuk menurunkan emisi di lingkungan sekitar.

Pada akhirnya, tantangan terbesar adalah menjembatani riset dan kehidupan sehari-hari. Bagaimana pohon cair kelak diproduksi, dioperasikan, dan dipelihara, masih membutuhkan banyak percobaan dan dialog. Namun, mengetahui bahwa upaya ini sedang berjalan di Bandung memberi rasa dekat dan konkret pada isu yang sering terasa jauh.

Menatap ke depan, pohon cair ITB mengajak kita merenungkan kembali hubungan kota dengan lingkungan. Di tengah keterbatasan lahan, muncul pertanyaan lanjutan: bagaimana kita bisa menggabungkan ruang hidup, ruang usaha, dan ruang risap lingkungan secara lebih selaras?

Di saat banyak orang mulai merencanakan perjalanan ke kota-kota seperti Bandung, mengenal inisiatif hijau semacam ini bisa menjadi bagian dari cara baru melihat sebuah destinasi. Bukan hanya soal kuliner dan lanskap, tetapi juga gagasan yang tumbuh di balik tembok kampus. Maka, ketika memikirkan masa depan perjalanan dan kota yang lebih layak huni, pohon cair layak kembali diingat sebagai salah satu kata kunci.

Sebagai penutup, pohon cair bukan jawaban tunggal, tetapi salah satu upaya penting dari Bandung untuk mencari bentuk baru perlindungan iklim di ruang yang sempit. Simpan cerita tentang pohon cair ITB ini, dan simpan artikel ini sebagai referensi perjalanan berikutnya.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.