“Anak-anak ini bukan cuma jalan-jalan, mereka belajar bagaimana desa bisa hidup dari pariwisata tanpa hilang adat,” begitu kira-kira obrolan warga saat melihat rombongan mahasiswa Prodi Pariwisata Universitas Hamzanwadi di sebuah destinasi. Dari Lombok Timur hingga Bali, cerita magang mereka pelan-pelan menyentuh banyak kampung dan pelaku pariwisata lokal. Di titik ini, jelas bahwa **program magang pariwisata Universitas Hamzanwadi** bukan sekadar agenda kampus, tetapi bagian dari ekosistem wisata di Nusa Tenggara dan sekitarnya.
Program yang sudah masuk tahun kelima ini kini melangkah lebih jauh. Dengan jangkauan baru sampai ke Bali, mahasiswa didorong melihat langsung bagaimana pariwisata budaya dikelola, terutama yang berorientasi pada keberlanjutan dan kehidupan warga sehari-hari.
Magang Pariwisata Hamzanwadi yang Kini Menyentuh Desa Wisata Penglipuran
Koordinator Prodi Pariwisata, Muhammad Ramli, M.Pd., CHE., menggambarkan tahun 2025 sebagai lompatan penting. Menurutnya, program magang pariwisata Universitas Hamzanwadi tidak lagi hanya berkutat di berbagai titik di Pulau Lombok. Kini, jangkauannya diperluas hingga ke Bali, tepatnya di Desa Wisata Penglipuran, Bangli.
Desa ini dikenal luas sebagai desa wisata berbasis budaya yang sudah meraih berbagai penghargaan. Karena itu, keputusan menjadikannya lokasi magang terasa cukup masuk akal. Di satu sisi, mahasiswa mendapat contoh nyata pengelolaan pariwisata yang tertata. Di sisi lain, warga desa mendapat tambahan energi muda yang bisa membantu kegiatan harian mereka.
Ramli menegaskan bahwa tahun 2025 terjadi peningkatan signifikan dalam penyelenggaraan magang. Peningkatan itu tidak hanya soal jumlah mahasiswa yang ikut, tetapi juga soal sebaran lokasi dan variasi mitra. Dengan kata lain, kesempatan belajar di lapangan jadi lebih beragam, sekaligus mendorong mahasiswa melihat wajah pariwisata dari berbagai skala, dari desa sampai industri.
Dengan adanya perluasan ke Bali, mahasiswa Universitas Hamzanwadi dapat membandingkan langsung praktik pariwisata di Lombok dan di desa wisata yang sudah lebih dulu dikenal di kancah nasional. Dari sini, mereka berpeluang belajar apa yang bisa diadaptasi di kampung halaman, dan apa yang perlu dijaga agar karakter lokal tetap kuat.
Dari 15 ke 18 Mitra: Apa Artinya bagi Mahasiswa dan Destinasi?
Salah satu data kunci dari Ramli adalah bertambahnya mitra dari 15 menjadi 18 pada tahun 2025. Angka ini mungkin terdengar kecil, namun bagi mahasiswa dan destinasi lokal, perubahan tersebut cukup terasa. Artinya, ada lebih banyak pintu belajar yang terbuka, baik di destinasi wisata maupun di industri pendukung pariwisata.
Dengan bertambahnya mitra, pembagian mahasiswa ke lokasi magang bisa lebih proporsional. Dampaknya, setiap tempat tidak terlalu penuh oleh peserta magang, sehingga interaksi dengan pelaku lokal menjadi lebih intens. Di sini, mahasiswa dapat memahami ritme kerja, peran warga, hingga tantangan sehari-hari yang tidak selalu tampak di brosur promosi wisata.
Di pihak mitra, kehadiran mahasiswa juga membawa manfaat tersendiri. Meski mereka masih belajar, namun ide segar dan semangat mengamati sering dibutuhkan, terutama ketika destinasi mulai mencari cara agar tetap relevan. Dengan demikian, relasi kampus dan mitra bisa tumbuh lebih seimbang, bukan hanya sebagai penyalur tenaga magang.
Pada akhirnya, penambahan mitra ini menunjukkan kepercayaan yang makin kuat pada Prodi Pariwisata Universitas Hamzanwadi. Jika sebelumnya hanya 15 pihak yang terlibat, kini 18 destinasi dan industri bersedia membuka ruang belajar. Ini menjadi sinyal bahwa pendekatan mereka dianggap cukup solid dan bermanfaat.
Belajar Pariwisata Berkelanjutan dari Lombok Timur hingga Bali
Desa Wisata Penglipuran menjadi sorotan karena dikenal sebagai contoh pariwisata budaya yang relatif tertata. Dari sana, mahasiswa bisa mengamati bagaimana tata ruang desa dijaga, bagaimana alur kunjungan diatur, dan bagaimana adat tetap berada di depan. Ternyata, aspek-aspek ini sering kali hilang ketika pariwisata dikejar hanya dari sisi jumlah wisatawan.
Dengan memahami pola di Penglipuran, mahasiswa berkesempatan membawa pulang pelajaran ke Lombok Timur dan daerah lain di Pulau Lombok yang menjadi lokasi magang. Misalnya, soal pembatasan aktivitas yang mengganggu warga, cara mengelola sampah, hingga bagaimana warga dilibatkan dalam keputusan sehari-hari. Meski konteks setiap desa berbeda, arah besarnya tetap sama: pariwisata yang tidak mengorbankan kehidupan lokal.
Namun, penting juga diingat bahwa tidak semua hal dari satu desa wisata bisa langsung disalin ke tempat lain. Di sisi lain, inilah fungsi magang: mahasiswa belajar memilah mana praktik yang relevan bagi kampungnya sendiri. Dengan bimbingan dosen dan pelaku lokal, mereka diajak berpikir kritis, bukan sekadar mencontoh secara mentah.
Bagi pembaca yang peduli pada masa depan pariwisata di daerah, langkah Prodi Pariwisata Universitas Hamzanwadi memperluas jangkauan magang hingga ke Bali layak dicermati. Ia menunjukkan bahwa pendidikan pariwisata dapat bergerak sejalan dengan kepentingan warga, bukan hanya angka kunjungan. Ketika mahasiswa kembali dari magang, pengetahuan ini berpotensi menyebar ke komunitas, pelaku usaha kecil, dan desa-desa yang ingin mengembangkan wisata.
Pada akhirnya, keberlanjutan pariwisata berakar dari hubungan yang sehat antara kampus, pelaku lokal, dan destinasi. Program magang pariwisata Universitas Hamzanwadi yang kini menyentuh Desa Wisata Penglipuran adalah satu contoh kecil dari upaya itu. Jika kamu berencana berkunjung ke destinasi-destinasi yang terlibat, cek jam operasional dan harga terbaru agar rencana tetap lancar.