Ketika wacana pemindahan ibu kota negara ramai dibahas, banyak orang membayangkan deretan hunian ASN yang menjulang di tengah hutan Kalimantan. Di antara nama-nama besar pengembang, Summarecon sempat dikenal sebagai salah satu pionir yang siap membangun hunian ASN di Ibu Kota Nusantara (IKN). Namun, pelan-pelan arah itu bergeser.
Alih-alih hanya mengejar proyek tempat tinggal pegawai negeri, perusahaan ini memilih menanam modal pada sesuatu yang lebih senyap, tapi menentukan: sekolah. Di sinilah kisah IKN terasa lebih manusiawi, karena masa depan sebuah kota baru tidak hanya diukur dari gedung kantor dan apartemen, tetapi juga ruang belajar bagi anak-anak penghuninya.
Mengapa Summarecon Meninggalkan Proyek Hunian ASN?
Langkah Summarecon berawal dari keterlibatan mereka dalam skema hunian aparatur sipil negara di IKN. Mereka masuk melalui pola Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), sebuah skema yang mengatur kolaborasi antara negara dan swasta. Di atas kertas, KPBU menawarkan pembagian peran yang jelas dan pembayaran melalui anggaran negara.
Namun, seiring berjalannya waktu, muncul kesadaran bahwa realisasi proyek KPBU tidak sesederhana rencana awal. Persyaratan yang sangat ketat dan proses yang panjang menjadi keseharian baru bagi para pengembang. Hal ini wajar, karena dana yang digunakan bersumber dari APBN sehingga pengawasan dan prosedurnya harus sangat hati-hati.
Dalam skema seperti ini, pihak swasta sebenarnya tidak diwajibkan membeli tanah. Mereka fokus pada pembangunan infrastruktur, lalu negara membayar melalui skema yang dikenal sebagai availability payment, pembayaran berkala ketika fasilitas sudah berfungsi. Di atas kertas hal tersebut terlihat menarik, tetapi di lapangan ada banyak tahapan administratif yang perlu dilalui.
Dengan memahami dinamika tersebut, Summarecon mulai mempertimbangkan kembali prioritasnya di IKN. Di satu sisi, mereka ingin proyek segera terasa dampaknya, bukan hanya menunggu proses yang panjang. Di sisi lain, kebutuhan dasar kota baru tidak berhenti pada urusan tempat tinggal. Pendidikan perlahan muncul sebagai ruang kontribusi yang dinilai lebih langsung dan terasa.
Dari Menara ASN ke Sekolah Islam Al Azhar di Tengah IKN
Pada titik ini, cerita berbelok ke arah yang mungkin tidak banyak orang prediksi. Summarecon memutuskan mengalihkan fokus investasi dari proyek hunian ASN ke pembangunan sekolah IKN, tepatnya Sekolah Islam Al Azhar. Pilihan ini tidak lagi memakai skema KPBU, melainkan jalan lain yang mereka anggap lebih luwes untuk segera direalisasikan.
Berbeda dengan proyek hunian ASN, untuk sekolah ini Summarecon justru mengambil langkah membeli tanah di kawasan IKN. Langkah itu menandai komitmen jangka panjang, karena kepemilikan lahan membuka ruang lebih luas untuk mengatur ritme pembangunan. Mereka tidak hanya menjadi investor jauh, tetapi ikut serta dalam proses pendirian sekolah itu sendiri.
Groundbreaking atau peletakan batu pertama telah dilakukan sebelum masa jabatan Presiden ke-7 RI Joko Widodo berakhir. Momen ini memberi tanda bahwa sekolah IKN mulai tumbuh bersamaan dengan fase awal pembangunan kota. Di tengah narasi besar tentang pusat pemerintahan, ada cerita lebih kecil tetapi penting tentang ruang kelas yang kelak akan diisi suara murid-murid.
Sekolah Islam Al Azhar sendiri membawa identitas khas pendidikan Islam modern yang sudah dikenal luas di banyak kota. Walau sumber yang ada tidak mengurai detail kurikulum ataupun jenjang yang dibangun, kita bisa menangkap pesan bahwa IKN diproyeksikan sebagai kota yang tidak hanya administratif, tetapi juga menjadi rumah bagi keluarga, anak-anak, dan kehidupan sehari-hari yang utuh.
Di sisi lain, pergeseran ke sekolah IKN ini menyimpan refleksi menarik tentang cara investasi bekerja di kota baru. Proyek pendidikan umumnya tidak sekilas menggiurkan seperti apartemen mewah, namun dampaknya merembes panjang ke komunitas. Dari guru yang akan bekerja, pedagang kecil di sekitar sekolah, hingga orang tua yang mencari lingkungan belajar yang stabil bagi anak mereka.
Apa Artinya Sekolah IKN Ini bagi Warga, Pendatang, dan Calon Wisatawan?
Jika melihat IKN semata sebagai proyek gedung tinggi dan ruas jalan baru, peralihan fokus ke sekolah IKN mungkin tampak sebagai detail kecil. Namun, ketika kita memandangnya sebagai calon destinasi perjalanan, tempat tinggal, atau lokasi usaha, keberadaan sekolah menjadi penanda penting. Kota dengan sekolah yang aktif biasanya punya ritme harian yang lebih hidup dan jaring sosial yang lebih kuat.
Bagi calon pendatang, terutama keluarga ASN dan pekerja sektor lain, kehadiran sekolah memberi rasa aman bahwa pendidikan anak tidak ditempatkan sebagai urusan belakangan. Di sini, Summarecon seolah membaca kebutuhan yang sering terlambat direspon dalam banyak kawasan baru: rumah mungkin cepat dibangun, tetapi sekolah sering menyusul. Kali ini, sekolah IKN berada di garis awal.
Bagi warga lokal Kalimantan yang kelak berinteraksi dengan kawasan IKN, sekolah juga bisa menjadi ruang temu budaya. Di satu sisi, ada identitas pendidikan Islam yang kuat. Di sisi lain, ada kesempatan menjalin hubungan baru antara pendatang dan komunitas sekitar. Di sinilah penting untuk terus menjaga agar pengembangan IKN tidak menghapus, melainkan berdialog dengan budaya lokal.
Untuk pelancong yang tertarik menjelajahi IKN di masa datang, keberadaan sekolah seperti ini memberi gambaran tentang wajah kota yang lebih lengkap. Kita tidak hanya akan melihat kantor pemerintahan, tetapi juga lingkungan pendidikan yang hidup. Dari sudut pandang jelajah kota, mengamati bagaimana sekolah IKN dan fasilitas pendidikan lain tumbuh bisa menjadi cara memahami seperti apa sebuah ibu kota baru dibentuk dari nol.
Pada akhirnya, pergeseran Summarecon dari hunian ASN ke sekolah IKN menunjukkan bahwa masa depan kota ini tidak sekadar deretan tower untuk aparat, tetapi juga ruang belajar bagi generasi berikutnya. Ketika nanti Anda merencanakan perjalanan ke IKN, melihat sekolah berdiri di antara gedung pemerintahan akan mengingatkan bahwa sebuah ibu kota sejati selalu dimulai dari warga mudanya. Simpan artikel ini sebagai referensi perjalanan berikutnya.