Kopi “Kasih Sayang” untuk Relawan Banjir Bandang Gunung Slamet

Kopi "Kasih Sayang" untuk Relawan Banjir Bandang Gunung Slam

Di setiap peristiwa bencana, banyak cerita yang hanya berpusat pada korban dan petugas pemerintah semata. Seringkali keberadaan para relawan seperti terlupakan.

Padahal, para relawan pun bekerja tanpa pamrih ikut serta mencurahkan waktu, harta, dan tenaga demi membantu meringankan beban saudaranya yang terdampak.

Di luar kebiasaan, ada satu posko tanggap darurat banjir bandang Gunung Slamet di Purbalingga , Jawa Tengah yang justru didirikan untuk memfasiltiasi para relawan.

Pos yang diberi nama ‘Pos Medang’ ini menyediakan bermacam hidangan hangat untuk para relawan.

Dengan semangat memberikan kasih sayang, para relawan tak hanya dapat memesan kopi, teh, dan jahe, tapi juga bisa memesan mie instan, gorengan, dan bermacam kudapan lain secara cuma-cuma.

Baca juga: Tekan Risiko Banjir dan Longsor, DLHK Jateng Ajukan Gunung Slamet Jadi Taman Nasional

Inisiator Pos Medang, Wijil Satrio Bagus (37) mengatakan, pos ini berdiri sejak 31 Januari 2026 di Dusun Kaliurip, kawasan yang paling parah terdampak banjir bandang Gunung Slamet .

Alasannya sederhana, ia bersama komunitas Relawan Peduli Purbalingga (RPP) dan Teman Main ini ingin mempermudah rekan relawan ketika hendak rehat di sela kesibukan membersihkan material banjir.

Sebelum ada Pos Medang, para relawan kerepotan jika hendak beristirahat atau sekedar minum, karena harus mampir ke rumah warga.

“Ketika stok kebutuhan untuk pengungsi sudah aman, beberapa donatur mengalihkan bantuannya untuk para relawan yang membersihkan material banjir di fasilitas umum dan rumah warga,” kata Wijil.

Tak pelak, keberadaan Pos Medang langsung menjelma seperti oase di tengah muramnya lokasi bencana.

Baca juga: Longsor dan Banjir Bandang di Lereng Slamet, DLHK Jateng Akui Ada Alih Fungsi Lahan

Pasalnya, di Pos Medang, baik relawan, warga, hingga aparat pemerintahan bisa duduk bersama. Mereka saling bertukar tawa, menanggalkan peluh dan duka walau untuk sementara.

“Pos Medang buka sekitar pukul 09.00 pagi hingga pukul 17.00 sore. Anggota relawan RPP kan banyak juga yang masih SMA, jadi habis pulang sekolah baru bisa bantu di Pos Medang,” kata dia.

Selama membuka Pos Medang, Wijil tentu menjumpai banyak tantangan, terutama saat mobilisasi karena lokasi bencana yang saat itu masih sulit dijangkau.

Namun dorongan dari rekan sesama relawan hingga konten kreator lokal, upaya Wijil untuk menyediakan Pos Hangat bagi para relawan itu dapat berjalan dengan cukup optimal.

Artikel ini memberikan wawasan mendalam tentang topik penting.
Dengan memahami berbagai aspek yang dibahas, Anda dapat mengambil keputusan yang lebih baik.
Informasi yang disajikan dirancang untuk membantu pengunjung dan komunitas lokal.
Semoga artikel ini bermanfaat bagi perjalanan dan eksplorasi Anda selanjutnya.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.