Banyak orang mikir hubungan Australia-Indonesia itu isinya cuma soal politik, visa, atau urusan kerjaan yang serius banget. Padahal lewat Taste of Australia 2026, dua negara bertetangga ini lagi sibuk bangun kedekatan lewat hal yang paling relate buat semua orang: makanan.
Ternyata, diplomasi itu nggak melulu di ruang rapat berjas rapi. Di Jakarta, ia juga kejadian di depan panggangan BBQ, di dapur sekolah dasar, dan di meja makan yang penuh bahan segar Australia yang dipadu bumbu Indonesia.
Taste of Australia 2026: BBQ, Edukasi, dan Cerita di Balik Piring
Taste of Australia 2026 ini digelar sama Kedutaan Besar Australia di Jakarta sebagai program tahunan. Atmosfernya santai, tapi muatan pesannya lumayan dalam. Acara ini dirancang buat ngenalin ragam produk segar Australia, sambil tetap ngasih spotlight ke kekayaan kuliner Indonesia.
Di panggung utama, ada sosok yang udah lumayan dikenal pecinta acara masak: Callum Hann. Buat yang suka nonton MasterChef Australia, nama ini pasti nggak asing lagi. Dia bukan cuma chef, tapi juga penulis dan pengusaha kuliner yang serius banget sama bahan-bahan segar.
Selama di Jakarta, Callum nggak cuma masak-masak lalu pulang. Ia ikut rangkaian agenda yang nyampurin edukasi, bisnis, dan hiburan. Jadi, di satu sisi orang bisa happy nonton demo masak dan Festival Kuliner dan BBQ Taste of Australia. Di sisi lain, ada obrolan lebih dalam tentang kualitas hasil bumi Australia dan cara kolaborasi dengan pelaku kuliner Indonesia.
Nah, di festival BBQ itu, Callum literal “nyalain panggangan”. Visualnya kebayang: daging dan bahan segar Australia di-grill, tapi dipikirin juga gimana cocok sama lidah lokal. Bukan cuma steak polos, tapi bisa aja kepikiran bumbu-bumbu yang lebih familiar buat kita.
Dengan cara ini, makanan jadi medium pertemuan budaya. Ada rasa Australia, ada sentuhan Indonesia, dan yang hadir bisa ngerasain langsung tanpa harus ke luar negeri dulu. Buat penikmat kuliner, ini jelas menarik. Buat pelaku bisnis F&B, ini bisa jadi bahan mikir untuk kolaborasi jangka panjang.
Dari SD Al Izhar sampai Dapur Chef Alumni: Diplomasi yang Turun ke Akar Rumput
Hal yang bikin Taste of Australia 2026 beda adalah fokusnya yang nggak berhenti di level event publik. Callum Hann juga nyambangi SD Al Izhar, salah satu sekolah mitra program BRIDGE Australia-Indonesia. Jadi, bukan cuma orang dewasa yang diajak ngobrol soal kuliner, tapi juga anak-anak.
Program BRIDGE sendiri intinya buat bangun dialog antarbudaya dan keterlibatan lintas negara sejak dini. Dengan kehadiran chef internasional ke sekolah, siswa bisa lihat sendiri gimana makanan bisa jadi bahasa yang semua orang pahami. Di sini, edukasi terasa jauh dari kaku, karena diikat sama hal yang fun: masak dan makan.
Lalu, ada juga sesi kolaborasi Callum bareng para chef alumni Australia. Ini menarik, karena banyak chef Indonesia yang dulu kuliah atau training di Negeri Kanguru, terus balik bangun karier di sini. Dapur jadi titik temu cerita-cerita itu, dari bahan segar sampai teknik masak.
Selain chef, Callum ketemu sama para pengusaha makanan dan minuman lokal yang juga pernah belajar di Australia. Di sinilah sisi bisnis mulai kelihatan lebih jelas. Obrolan mereka kemungkinan nyentuh soal pasokan bahan, standar kualitas, sampai cara menggabungkan produk Australia dengan cita rasa Indonesia untuk pasar lokal.
Dengan begitu, Taste of Australia 2026 bukan sekadar show satu hari yang viral lalu hilang. Ada jaringan yang coba dikuatkan: sekolah mitra, chef alumni, dan pelaku UMKM F&B yang punya pengalaman dua budaya. Ini tipe diplomasi yang pelan, tapi efeknya bisa lama.
Kenapa Taste of Australia Penting Buat Kita, Bukan Cuma Buat Diplomasi
Menurut Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath, kecintaan terhadap makanan itu bahasa universal. Ia bilang kalau ketika produk Australia ketemu cita rasa Indonesia, hasilnya bisa merefleksikan yang terbaik dari dua budaya. Statement ini kedengarannya simple, tapi cukup ngena buat konteks hubungan dua negara.
Di satu sisi, acara seperti ini bantu masyarakat Indonesia lebih kenal kualitas dan ketersediaan hasil bumi segar dari Australia. Ini penting buat restoran, hotel, sampai UMKM yang pengin eksplor menu baru dengan kombinasi bahan impor dan racikan lokal. Namun di sisi lain, selalu ada pertanyaan wajar soal keseimbangan: gimana caranya produk impor ini berjalan bareng, bukan gantikan bahan lokal.
Di sini lah peran kolaborasi jadi krusial. Kalau chef dan pelaku usaha Indonesia bisa pakai bahan Australia tanpa ninggalin identitas kuliner sendiri, hasilnya bisa jadi win-win. Misal, teknik masak dan bahan tertentu dari Australia dipadukan dengan bumbu Nusantara yang kaya. Jadi bukan sekadar duplikasi makanan Barat di Jakarta, tapi kreasi baru yang relevan buat lidah lokal.
Dengan dukungan Qantas sebagai mitra resmi, sisi logistik dan branding acara ini jelas kebantu. Tapi buat kita yang nonton dari jauh, yang lebih menarik justru gagasan di baliknya: memakai makanan sebagai cara bikin hubungan antarnegara terasa dekat, bukan abstrak.
Pada akhirnya, Taste of Australia 2026 nunjukin kalau diplomasi kuliner itu bisa santai tapi tetap bermakna. Kita diajak lihat hubungan Australia-Indonesia dari sudut yang lebih hangat: chef yang saling belajar, siswa yang ketemu budaya lain lewat masakan, dan pelaku F&B yang cari cara baru buat berkembang.
Kalau suatu hari kamu lagi di Jakarta dan lihat ada lagi rangkaian Taste of Australia berikutnya, mungkin worth it banget buat disamperin. Bukan cuma buat icip-icip makanan, tapi juga buat ngerasain sendiri gimana dua budaya ngobrol lewat satu piring.
Dan kalau nanti kamu nemu menu di restoran lokal yang ternyata hasil eksperimen bahan segar Australia dengan bumbu Indonesia, bisa jadi itu adalah efek domino kecil dari acara seperti ini. Taste of Australia jadi jembatan, kita yang duduk di meja makan jadi bagian ceritanya.
Simpan artikel ini sebagai referensi perjalanan berikutnya.