“Di sini mah kalau lagi mumet, naiknya ke Gunung Lalakon aja. Satu jam nanjak, puncak udah kelihatan, pulang kepala lebih enteng,” cerita seorang warga Kampung Badaraksa pada kami. Dari obrolan santai kayak gini, kebayang banget kalau gunung satu ini memang bagian dari hidup sehari-hari warga Kutawaringin, bukan cuma latar foto buat wisatawan.
Buat kamu yang lagi cari trek ringan tapi tetap berasa naik gunung beneran, Gunung Lalakon di Kabupaten Bandung ini underrated abis. Lokasinya ada di Kampung Jelegong, Desa Badaraksa, Kutawaringin, dan dari jauh langsung kelihatan karena bentuknya mirip piramida rapi.
Apa Sih yang Bikin Gunung Lalakon Bandung Berbeda?
Pertama-tama, bentuk Gunung Lalakon ini ikonik banget. Dari kejauhan, siluetnya kelihatan kayak kerucut yang rapi, hampir kayak piramida tunggal yang nongol di tengah lanskap Bandung bagian selatan. Jadi, bahkan sebelum sampai basecamp, kamu udah dapet teaser visual yang bikin pengen cepat-cepat nanjak.
Karena bentuk unik ini, gunung ini sempat jadi perhatian para ahli geologi dan arkeologi. Mereka tertarik ngulik kenapa bentuknya bisa segitu “rapi”-nya. Nah, buat kita yang datang sebagai pendaki santai, hasil sampingannya jelas enak: trek yang jelas arahnya, naik ke satu puncak yang langsung kelihatan.
Begitu sampai puncak, hadiah utamanya adalah pemandangan Bandung Basin alias Cekungan Bandung dari berbagai sisi. Saat cuaca lagi cerah, kamu bisa lihat hamparan perbukitan hijau yang nyambung sama lanskap perkotaan. Di sisi lain, terlihat juga Waduk Saguling di bagian barat, jadi panorama air dan bukitnya berbaur halus.
Udaranya juga sejuk dan segar, cocok banget buat kamu yang sehari-hari berkutat di ruangan AC atau macet kota. Vegetasi hijau di sepanjang jalur pendakian bikin suasana adem, secara visual maupun suasana hati. Jadi, walau treknya relatif singkat, efek “healing”-nya cukup kerasa.
Menariknya lagi, di puncak bukan cuma ada tower PLN, tapi juga deretan batuan dengan nama-nama khas Sunda: Batu Lawang, Batu Pabiasan, Batu Warung, Batu Pupuk, Batu Renges, Batu Gajah, sampai Batu Panjang. Menurut tokoh masyarakat Kampung Badaraksa, Abah Acu, Gunung Lalakon itu perlambang sebuah “lakon” kehidupan manusia, dan batu-batu ini jadi simbol perjalanan hidup itu.
Dengan memahami cerita dari warga lokal, pendakian ke Gunung Lalakon kerasa lebih dari sekadar olahraga. Kamu kayak diajak refleksi ringan: hidup itu naik turun, ada banyak “batu” yang dilewati, tapi puncaknya selalu punya pandangan yang lebih luas.
Cara ke Gunung Lalakon dan Aktivitas Santai yang Bisa Kamu Lakuin
Secara akses, Gunung Lalakon cukup bersahabat. Kalau kamu berangkat dari pusat Kota Bandung, rutenya bisa lewat jalan tol dan keluar di Gerbang Tol Soreang. Dari sana, perjalanan lanjut menuju Kecamatan Kutawaringin dengan estimasi waktu sekitar 45 menit sampai satu jam, tergantung kondisi jalan dan lalu lintas.
Di sisi lain, kalau kamu mengandalkan transportasi umum, opsinya adalah naik angkutan dari Terminal Leuwipanjang ke Soreang dulu. Setelah turun di Soreang, perjalanan bisa dilanjutkan dengan ojek online menuju area Gunung Lalakon. Memang agak perlu beberapa kali pindah kendaraan, tapi buat banyak orang, ini harga yang cukup wajar untuk sampai ke trek pendakian yang relatif ramah pemula.
Salah satu alasan Gunung Lalakon cocok buat “dicicil” di akhir pekan adalah durasi pendakiannya. Dari info warga dan pengalaman beberapa pendaki, jalur naiknya kira-kira hanya butuh 1 sampai 1,5 jam. Jadi, kamu bisa berangkat pagi, santai di puncak, dan masih sempat turun sebelum siang terlalu terik.
Dengan durasi sependek itu, banyak yang menganggap Lalakon sebagai tempat latihan fisik ringan. Misalnya, kamu lagi pengen naik gunung yang lebih tinggi beberapa minggu lagi, tapi badan belum terlalu “panas”. Di sini kamu bisa ngetes kekuatan kaki, napas, dan kesiapan carrier tanpa harus ngambil cuti panjang dulu.
Soal aktivitas, walaupun treknya singkat, pilihannya tetap lumayan variatif:
- Menikmati sunrise atau sunset dari puncak, selama cuaca mendukung dan kamu atur waktu berangkat dengan pas.
- Foto-foto dengan latar Cekungan Bandung, perbukitan hijau, dan siluet Waduk Saguling di kejauhan.
- Eksplor area batu-batu bernama tadi, sambil denger cerita lokal kalau kamu ketemu warga yang lagi naik juga.
Ternyata, buat kamu yang suka aktivitas outdoor tapi lagi minim waktu, paket singkat kayak gini lumayan ideal. Kamu tetap gerak, tetap dapat view, tapi badan tidak terlalu babak belur.
Biar pengalaman makin nyaman, kamu juga bisa pilih menginap di sekitar Soreang atau Bandung. Dari informasi yang ada, beberapa penginapan yang sering jadi pilihan antara lain:
- Grand Sunshine Resort and Convention di Jl. Raya Soreang No. 6, Pamekaran, Soreang, dengan fasilitas hotel bintang empat dan kisaran harga mulai sekitar 700–900 ribuan per malam, tergantung paket sarapan.
- Sutan Raja Hotel & Convention Centre Soreang di Jl. Raya Soreang No. 10, dengan fasilitas standar hotel bintang empat dan harga mulai kisaran 500 ribuan per malam.
- Buat yang lebih hemat, ada Si Jalak Guest House by ARBA di Jl. Parung Serab No. 9, Bandung Barat, dengan harga mulai sekitar 200 ribuan per malam.
Dengan pilihan macam ini, kamu bebas atur gaya liburan: mau versi nyaman pakai resort, atau versi low-budget yang penting bisa istirahat, semua ada opsinya.
Persiapan Wajib Biar Trek Pendek Ini Tetap Aman dan Asik
Walaupun ketinggian Gunung Lalakon “cuma” sekitar 870 meter, jangan disepelekan. Jalur tanah di sini bisa jadi sangat licin saat hujan. Jadi, pilihan alas kaki itu penting. Idealnya kamu pakai sepatu hiking atau sandal gunung dengan grip tebal, bukan sepatu fashion yang sol-nya licin.
Untuk baju, usahakan pakai celana yang cepat kering dan nyaman buat bergerak. Kalaupun kamu berangkat di musim yang rawan hujan, jas hujan tipis atau ponco wajib masuk tas. Dengan begitu, pendakian tetap bisa dilanjutkan dengan aman, meski cuaca tiba-tiba berubah.
Hal lain yang sering disepelekan adalah air minum. Di jalur Gunung Lalakon, tidak ada sumber mata air yang mudah diakses selama pendakian. Jadi, kamu perlu bawa air dari bawah secukupnya. Misalnya, isi minimal satu botol besar untuk satu orang, dan tambah lagi kalau kamu tipe yang cepat haus.
Soal sampah, ini bagian yang sering bikin warga lokal lumayan resah. Mereka senang wilayahnya dikunjungi, tapi sedih kalau lihat plastik makanan dan botol minum ditinggal di jalur. Karena itu, biasakan bawa kantong sampah pribadi, isi dengan semua sampahmu, dan bawa turun kembali.
Pada akhirnya, pengalaman trekking yang enak itu bukan cuma soal view, tapi juga soal bagaimana kita ninggalin jejak. Kalau kita rapi dan hormat sama alam, warga lokal juga biasanya makin terbuka dan ramah. Wisata jalan, hubungan antarwarga dan pendaki pun bisa tumbuh sehat.
Sebagai penutup, Gunung Lalakon Bandung layak kamu masukin ke daftar destinasi kalau lagi cari trek singkat dengan view yang lumayan maksimal. Bentuknya yang mirip piramida, akses yang cukup mudah, dan pemandangan Cekungan Bandung dari puncak bikin gunung ini jadi tempat latihan fisik yang sekaligus kasih ruang buat napas panjang.
Sebelum berangkat, tetap ingat buat jaga keselamatan diri dan kenyamanan warga sekitar. Pantau info resmi dari pengelola atau dinas setempat sebelum berkunjung.