Asa Baru Petani Kopi dan Kayu Manis Renah Pametik

Asa Baru Petani Kopi dan Kayu Manis Renah Pametik

Pernah kepikiran nggak, gimana rasanya jadi petani kopi dan kayu manis di Renah Pametik yang puluhan tahun harus jalan kaki nembus hutan cuma buat ngeluarin hasil panen?

Kisah di Renah Pametik, Kecamatan Siulak Mukai, Kabupaten Kerinci, Jambi ini lumayan bikin mikir soal hal yang sering kita anggap sepele: akses jalan. Bagi mereka, munculnya orang baru di desa sekarang itu semacam kode, kalau hidup pelan-pelan lagi naik kelas.

Dari Jalan Berlumpur ke Asa Baru Petani Kopi dan Kayu Manis

Renah Pametik itu sebutan buat tiga desa: Desa Pasir Jaya, Desa Lubuk Tabung, dan Desa Sungai Kuning. Total ada sekitar 531 kepala keluarga, dengan 1.556 penduduk yang hampir semuanya petani kopi dan kulit kayu manis.

Dari cerita warga, kehidupan di sini baru benar-benar ke-start sekitar tahun 1970-an. Awalnya cuma beberapa orang yang berani buka pemukiman di perbukitan, jauh dari pusat kota. Salah satunya Al Hatimin, warga Desa Lubuk Tabung yang sekarang berusia 67 tahun.

Dia bilang, sekitar tahun 1973, waktu pertama kali tinggal di sana, kondisi desa masih hutan lebat. Pelan-pelan orang datang, bikin rumah, buka lahan, sampai akhirnya tumbuh jadi tiga desa yang kita kenal sebagai Renah Pametik sekarang.

Tapi di balik suasana desa yang sekarang kelihatan ramah dan hidup, ada memori lama yang cukup keras. Dulu, sebelum ada jalan yang agak layak, petani harus pikul sendiri 30 sampai 40 kilogram kopi dan kayu manis. Mereka jalan menembus hutan, lewat turunan curam dan tanjakan terjal.

Kalau hujan, jalan berubah jadi lumpur. Kadang mereka harus tidur di jalan, literally, cuma buat bisa nganterin panen ke tempat jual. Jadi, sebelum ngomong soal harga bagus atau pasar luas, ada satu tembok besar dulu: akses.

Kalimat Jujur Petani Kopi Kerinci soal Jalan dan Harga

Sekarang bayangin kamu di posisi Ali Kitab, petani kopi 70 tahun dari Desa Sungai Kuning. Hidup puluhan tahun di sana, tapi tiap panen selalu ketahan sama kondisi jalan. Dia cerita, susahnya akses bikin hasil jual kopinya kepotong habis.

Bukan cuma capek fisik, tapi juga hitungan biaya. Karena jalan susah dilalui, mereka harus bayar ojek lagi buat bawa kopi keluar desa. Artinya, uang yang mereka terima makin tipis. Di sini kelihatan banget, betapa satu ruas jalan bisa nyeret turun ekonomi satu desa.

Ali Kitab ngomong jujur, kalau jalan sudah bagus, harga kopi juga ikut bagus. Bukan karena harga di pasar tiba-tiba naik, tapi karena biaya keluarin barang dari desa bisa turun. Pada akhirnya, uang yang nyampe ke tangan petani lebih banyak.

Di sisi lain, hampir 100 persen warga di tiga desa ini taruhan hidup di sektor yang sama: kopi dan kulit kayu manis. Sisanya cuma sedikit yang jadi petani padi dan hortikultura kayak bawang atau cabai. Jadi, kalau akses ke komoditas utama mereka tersendat, imbasnya ke hampir semua rumah.

Dengan memahami kondisi itu, kita bisa lihat kenapa suasana di Renah Pametik sekarang terasa beda. Petani yang lagi jemur kopi dan kayu manis di pekarangan gampang banget lempar senyum dan lambaian ke orang baru. Kehadiran tamu buat mereka bukan cuma soal basa-basi, tapi sinyal bahwa desa mereka nggak lagi terputus.

Bukan Sekadar Jalan: Apa yang Berubah Sejak 2012?

Sekitar tahun 2012, pemerintah mulai bangun dan melebarkan jalan ke Renah Pametik. Harapannya jelas: petani kopi dan kayu manis di Kerinci ini bisa lebih mudah jual hasil panen. Di atas kertas, ini kelihatan simple, tapi di lapangan prosesnya pelan.

Walaupun sudah ada pembangunan, kondisinya belum langsung lancar. Mobil pengangkut kopi dan kayu manis masih sering kejebak di lubang dan jalan berlumpur. Kadang hasil panen harus nginep satu sampai dua hari di tengah jalan karena kendaraan nggak bisa lewat.

Namun, dibanding cerita masa mereka harus pikul panen dan tidur di jalan, ini tetap maju beberapa langkah. Setidaknya, sudah ada jalur mobil walau belum ideal. Dengan kata lain, masih banyak PR, tapi arah perubahannya mulai kebaca.

Di sisi lain, perubahan jalan juga pelan-pelan ngubah ritme kehidupan desa. Orang luar mulai lebih gampang masuk. Pedagang, pembeli, mungkin juga organisasi yang mau dampingi petani. Buat warga, tiap motor atau mobil baru yang lewat itu semacam tanda: desa mereka makin kebuka.

Ternyata, dari situ juga muncul harapan soal ekonomi yang lebih sehat. Kalau akses makin baik, bukan cuma kopi dan kayu manis yang lebih lancar keluar. Anak muda di desa juga bisa punya lebih banyak pilihan gerak, entah tetap di pertanian dengan cara baru, atau cari peluang lain tanpa harus ninggalin akar.

Pada akhirnya, cerita Renah Pametik ini nunjukin sesuatu yang lumayan simpel tapi sering kita lupa: infrastruktur dasar kayak jalan itu nempel langsung ke isi piring di meja makan warga desa. Bukan hal abstrak, tapi soal berapa kilo panen yang bisa sampai pasar, dan berapa rupiah yang pulang ke rumah.

Buat kamu yang peduli UMKM dan desa, kisah petani kopi dan kayu manis di Renah Pametik ini bisa jadi pengingat kalau akses fisik dan akses ekonomi itu susah dipisahin. Asa baru petani kopi dan kayu manis di Renah Pametik lahir ketika jalan mulai dibuka, meski perjalanannya masih panjang.

Kalau suatu saat kamu lewat Kerinci dan dengar nama Renah Pametik, mungkin bakal kerasa beda setelah tahu ceritanya. Dan sebelum berangkat ke mana pun, termasuk ke daerah-daerah penghasil kopi dan kayu manis seperti ini, jangan lupa: Cek jam operasional dan harga terbaru agar rencana tetap lancar.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *