Menjelang Lebaran, banyak orang ingin menambah penghasilan, termasuk lewat trading saham. Di saat kebutuhan meningkat dan harapan keuntungan cepat menguat, tawaran investasi di media sosial terasa sangat menggoda. Namun, kasus di Mataram ini mengingatkan kita bahwa satu klik di iklan bisa berujung hilangnya tabungan puluhan tahun.
Dalam artikel ini, kita akan mengurai kronologi singkat kasus, melihat bagaimana pelaku memancing korban, dan apa pelajaran yang bisa diambil pelaku usaha dan warga biasa di Nusa Tenggara Barat dan daerah lain.
Dari Iklan Instagram ke Kerugian Rp1,6 Miliar Lebih
Kasus penipuan trading saham di Mataram ini menimpa Edy Gunarto, seorang pengusaha di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Ia melaporkan kerugiannya ke Ditreskrimsus Polda NTB pada Sabtu, 29 Maret 2025. Laporan itu menyebut kerugian lebih dari Rp1,6 miliar setelah tergiur tawaran trading lewat akun internasional yang ternyata bodong.
Awal kejadian cukup sederhana dan sangat relevan dengan keseharian banyak orang. Edy melihat iklan trading saham di akun Instagram miliknya. Karena tertarik, ia mengklik tautan dalam iklan itu. Dari sana, ia langsung diarahkan ke sebuah grup WhatsApp yang mengatasnamakan diri sebagai akun Black Rock International.
Di grup tersebut, setiap anggota disebut mendapat modal awal Rp1 juta. Tawaran seperti ini sangat mudah membuat orang merasa diuntungkan sejak awal. Dengan adanya “modal hadiah”, calon korban kerap menurunkan kewaspadaan. Di sisi lain, nuansa internasional dari nama akun juga bisa menambah kesan meyakinkan bagi yang belum terbiasa mengecek legalitas investasi.
Setelah masuk grup, Edy kemudian dihubungi admin yang juga mengaku sebagai sekretaris bernama Avelyn Tan. Di titik ini, komunikasi pribadi menjadi kunci. Admin menyampaikan berbagai informasi tentang metode trading, waktu beli dan jual, serta proyeksi keuntungan. Pendekatan yang terkesan profesional seperti ini sering membuat korban merasa berhadapan dengan pihak yang berpengalaman.
Bagaimana Korban Bisa Yakin pada Akun Bodong Ini?
Banyak orang bertanya, bagaimana seorang pengusaha bisa tertipu hingga lebih dari Rp1,6 miliar lewat trading saham? Jawabannya tidak sesederhana menyalahkan korban. Justru, pola penipuan ini menunjukkan bagaimana pelaku memanfaatkan harapan dan rasa percaya secara bertahap.
Pertama, ada bukti keuntungan awal yang sengaja ditampilkan. Edy disebut sudah merasakan keuntungan sekitar Rp200 ribu di awal. Nilai ini tidak besar, tapi cukup untuk membuat skema terlihat wajar. Dengan adanya keuntungan kecil, korban cenderung berpikir, “kalau ditambah modal, mungkin untungnya lebih besar”.
Kedua, struktur grup tampak rapi. Pada Februari 2025, Edy sudah berada di grup WhatsApp dengan admin bernama Christopher Ganis. Admin inilah yang memberikan rekomendasi kapan harus membeli dan menjual saham. Pola ini meniru gaya layanan konsultan keuangan, tapi tanpa perlindungan dan pengawasan resmi.
Ketiga, komunikasi yang intens dan penuh keyakinan membuat korban merasa tidak berjalan sendirian. Di banyak kasus serupa, pelaku menampilkan grafik, testimoni, bahkan istilah teknis untuk terlihat pintar. Namun, tanpa izin resmi dan mekanisme pengawasan, semua itu hanya lapisan tipis yang menutupi niat menipu.
Dengan memahami tiga hal ini, kita bisa melihat bahwa korban tidak serta-merta ceroboh. Penipuan jenis ini memang dirancang halus, memadukan iming-iming keuntungan, suasana profesional, dan pendekatan personal. Di sisi lain, nama besar asing yang dicatut membuat sebagian orang enggan bertanya lebih jauh soal legalitas.
Kasus ini menjadi pengingat kuat bagi pelaku UMKM dan pengusaha lokal yang sering menyimpan dana usaha dalam jumlah besar. Ketika keuangan usaha sedang tertekan menjelang hari raya, tawaran penghasilan tambahan lewat trading saham tampak sangat menarik. Namun, tanpa verifikasi yang ketat, risikonya justru bisa mengancam kelangsungan usaha.
Pelajaran Penting bagi Pelaku Usaha: Tahan Godaan “Cuan Cepat”
Dari penipuan trading saham di Mataram ini, ada beberapa pelajaran praktis yang bisa diambil para pengusaha dan pekerja di kota-kota seperti Mataram:
Pertama, selalu curiga pada tawaran yang muncul dari iklan media sosial, apalagi jika mengarahkan ke grup WhatsApp atau aplikasi pesan instan lain. Iklan bisa dibeli siapa saja, bukan hanya lembaga resmi. Karena itu, langkah berikutnya seharusnya bukan langsung transfer dana, melainkan mengecek nama perusahaan di lembaga berwenang.
Kedua, waspadai iming-iming modal awal gratis dan keuntungan cepat. Skema seperti ini sering digunakan untuk membangun rasa percaya. Ketika korban mulai melihat “keuntungan” kecil, ia akan terdorong menambah setoran tanpa banyak bertanya. Di sinilah pelaku biasanya mulai mengarahkan pada nilai transfer yang jauh lebih besar.
Ketiga, pisahkan uang usaha dan uang pribadi, serta tentukan batas kerugian yang sanggup ditanggung. Meskipun ingin mencoba trading, dana yang dipertaruhkan sebaiknya benar-benar dana yang siap hilang. Dengan begitu, ketika muncul tawaran menambah modal berkali-kali lipat, alarm kewaspadaan masih bisa berbunyi.
Keempat, ajak orang lain berdiskusi sebelum mengambil keputusan investasi besar. Kadang, hanya dengan menceritakan pada keluarga, rekan kerja, atau komunitas usaha, sinyal-sinyal kejanggalan bisa lebih cepat terlihat. Pada akhirnya, keputusan memang di tangan kita, tetapi sudut pandang lain dapat membantu menahan langkah terburu-buru.
Terakhir, bagi pembaca di Mataram dan daerah lain, kasus ini bisa menjadi alasan untuk lebih melek literasi keuangan dan digital. Dengan begitu, pelaku usaha tidak hanya fokus produksi dan penjualan, tetapi juga lebih siap menghadapi tawaran investasi yang beredar di sekitar mereka.
Kasus trading saham bodong yang menjerat pengusaha di Mataram jelang Lebaran ini mungkin hanya satu dari banyak kasus serupa di berbagai daerah. Namun, jika pelajarannya dipegang bersama, kerugian serupa bisa dikurangi. Saat bertemu tawaran trading saham atau investasi apa pun, ambil jeda, cek lembaga resminya, dan jangan biarkan harapan keuntungan cepat menenggelamkan kewaspadaan. Cek jam operasional dan harga terbaru agar rencana tetap lancar.