“Ini tradisi turun-temurun di desa kami, jalan sesulit apa pun, jenazah tetap harus pulang,” kira-kira begitu suara yang hidup dalam gotong royong motor bambu di Porelea II saat warga mengantar kepergian Yusak G. Tidak ada sirene mobil jenazah, tidak ada iring-iringan kendaraan modern. Yang ada hanya dengung mesin motor, gesek bambu di pundak, dan langkah pelan puluhan warga yang menyusuri jalur sepanjang 20 kilometer.
Di Desa Porelea II, Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, gotong royong bukan slogan yang dipajang di balai desa. Ia hadir dalam keputusan sederhana tapi berat: menempuh perjalanan jauh dengan motor yang dimodifikasi bambu, demi memastikan orang terakhir yang pulang tetap mendapat penghormatan.
Bagaimana Motor Bambu Menggantikan Mobil Jenazah di Porelea II?
Di banyak kota, kematian biasanya diiringi mobil jenazah, bunga plastik, dan klakson pelan. Namun, di Porelea II, medan menuju desa membuat kendaraan roda empat tak bisa masuk. Karena itu, warga memodifikasi sepeda motor dengan rangka bambu untuk membawa peti jenazah menyusuri jalan yang sulit.
Sekretaris Desa Porelea II, Ramli Gunawa Laoh, menjelaskan bahwa pengantaran jenazah dengan motor bambu sudah lama menjadi budaya di sana. Dari cerita itu, kita bisa membayangkan bagaimana logika praktis berpadu dengan nilai. Jalan tak bisa dilalui mobil, namun jenazah Yusak G. tetap harus kembali dari Rumah Sakit BK Palu ke kampung halamannya.
Meter demi meter, roda motor menapak tanah dan batu, sementara peti jenazah diletakkan di atas rangka bambu yang diikat kuat. Di sisi lain, warga berjalan mengiringi, siap membantu jika medan terlalu berat. Tradisi ini bukan sekadar cara mengatasi minimnya fasilitas, tetapi juga menjadi simbol bahwa perjalanan terakhir seseorang tidak pernah ditempuh sendirian.
Dengan memahami kondisi ini, kita melihat bahwa motor bambu adalah jawaban lokal atas persoalan akses dan geografi. Ia lahir dari kebutuhan, namun tumbuh menjadi praktik sosial yang sarat makna. Pada akhirnya, pengangkutan jenazah sejauh 20 kilometer menjadi cerita tentang kreativitas desa dan keteguhan untuk menjaga martabat pemakaman.
Tradisi Turun-Temurun: Antara Hormat Terakhir dan Keterbatasan Akses
Ramli menyebut, tradisi ini sudah turun-temurun. Masyarakat bersatu untuk saling membantu, tanpa banyak tanya soal siapa keluarga duka atau seberapa dekat hubungan pribadi. Dalam suasana seperti itu, gotong royong menjadi bahasa yang dipahami semua orang, dari anak muda sampai orang tua.
Di satu sisi, ada rasa hormat yang kuat pada jenazah dan keluarganya. Warga memastikan pemakaman berjalan lancar, meski harus menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Di sisi lain, tradisi ini juga mengingatkan kita pada realitas: akses jalan yang belum memadai membuat warga harus terus mengandalkan cara-cara lokal seperti motor bambu.
Namun, alih-alih memandangnya semata-mata sebagai kekurangan infrastruktur, kita juga bisa melihat bagaimana warga mengubah keterbatasan menjadi ruang solidaritas. Perjalanan jauh itu memaksa orang untuk hadir, saling menguatkan, dan berbagi beban. Ternyata, di banyak desa seperti Porelea II, kebersamaan masih tumbuh dari situasi paling sunyi: dari duka dan kepergian.
Masyarakat setempat berharap tradisi ini tetap terjaga, walau waktu berjalan dan banyak hal berubah. Harapan itu menyimpan dilema kecil: jika kelak jalan membaik dan mobil bisa masuk, apakah motor bambu akan pelan-pelan ditinggalkan? Atau, justru tradisi ini akan bertahan sebagai pilihan sadar, bukan karena terpaksa?
Belajar Menjadi Tamu yang Peka di Desa-Desa Seperti Porelea II
Bagi pembaca yang gemar menjelajah sudut-sudut Indonesia, kisah gotong royong motor bambu di Porelea II mengajak kita merenung. Desa seperti ini sering muncul dalam cerita, namun jarang masuk daftar destinasi populer. Padahal, di tempat-tempat seperti inilah kita menemukan bentuk lain dari “keindahan”: bukan pemandangan, melainkan cara orang saling menjaga.
Jika suatu saat Anda berkesempatan melintasi wilayah seperti Kecamatan Pipikoro, Sigi, kisah ini bisa menjadi pegangan sikap. Pertama, penting untuk datang dengan rasa hormat pada praktik lokal, termasuk urusan yang sangat sensitif seperti pemakaman. Bila tanpa sengaja menjadi saksi prosesi semacam motor bambu, sebaiknya menjaga jarak yang sopan, tidak menghalangi jalur, dan menghindari mengambil gambar tanpa izin.
Kedua, cerita ini juga mengingatkan bahwa tidak semua desa siap menjadi “objek wisata”. Ada wilayah yang lebih membutuhkan dukungan pada akses, layanan dasar, dan pengakuan budaya, bukan sekadar kedatangan pengunjung. Dengan menyadari hal tersebut, kita bisa lebih peka dalam menempatkan diri: kadang, yang paling bijak adalah mengapresiasi dari jauh, sambil mendorong perhatian pada kebutuhan mereka.
Pada akhirnya, gotong royong motor bambu di Porelea II adalah cermin tentang siapa kita sebagai bangsa. Di tengah perubahan zaman, masih ada komunitas yang memilih berjalan bersama, bahkan dalam perjalanan terakhir seseorang. Saat Anda merencanakan perjalanan melihat sisi lain Indonesia, kisah ini layak disimpan dalam ingatan, sebagai pengingat akan kehormatan terakhir dan solidaritas yang tumbuh di jalan tanah dan bambu.
Simpan artikel ini sebagai referensi perjalanan berikutnya.