Thames Town Shanghai, Kota Nuansa Inggris yang Bikin Bingung

Thames Town Shanghai, Kota Nuansa Inggris yang Bikin Bingung

Pernah kepikiran nggak, lagi liburan ke China tapi jalan-jalannya serasa di Inggris? Nah, itu persis vibe yang ditawarin Thames Town Shanghai, kota bernuansa Inggris di Distrik Songjiang yang bikin banyak orang dua kali nengok karena setting-nya nggak kayak China pada umumnya.

Kota ini lumayan sering muncul di media luar sebagai destinasi unik, tapi di kalangan traveler Indonesia masih underrated abis. Padahal konsepnya lumayan mind-blowing: kamu ada di pinggiran Shanghai, tapi suasananya mirip desa-desa di Inggris.

Apa Sih Sebenarnya Thames Town Shanghai Itu?

Secara lokasi, Thames Town ada di Distrik Songjiang, sekitar 19 mil dari pusat Shanghai. Jadi ini bukan di tengah keramaian kota besar, tapi agak di pinggiran yang memang dikembangin buat area hunian baru.

Thames Town dibangun dengan gaya kota-kota di Inggris. Dari jalanan berbatu, rumah-rumah bergaya Victoria, sampai kotak telepon merah yang ikonik itu, semua sengaja didesain biar nuansanya kebawa British banget.

Nama Thames Town sendiri diambil dari Sungai Thames di Inggris. Proyek ini bagian dari program pengembangan bernama One City, Nine Towns yang diluncurkan sekitar tahun 2001. Tujuan besarnya cukup serius: ngurangin kepadatan penduduk di pusat Shanghai yang makin sesak.

Tapi, di lapangan, hasil akhirnya malah lebih mirip taman tematik raksasa dengan suasana kota Eropa. Banyak bangunan keren, tapi nggak semuanya bener-bener dipakai buat tinggal sehari-hari.

Detail Nuansa Inggris: Dari Rumah Victoria sampai Gereja Bristol

Kalau kamu tipe yang seneng ngeliat detail arsitektur, Thames Town ini kayak playground visual. Di sana ada deretan rumah bergaya Victoria dan Georgia yang rapi, lengkap dengan fasad dan jendela khas Eropa.

Lalu, ada juga bangunan bergaya Tudor, yaitu gaya lama Inggris dengan kombinasi kayu dan tembok putih yang sering kelihatan di film atau serial British. Jadi, satu kawasan ini kayak kumpulan gaya Inggris dari beberapa era.

Selain rumah, beberapa ikon Inggris juga ikut direplikasi. Misalnya, gereja yang desainnya didasarkan pada Christ Church di Clifton, Bristol. Bentuknya bikin suasana makin terasa kayak di kota kecil di Inggris, bukan di pinggiran Shanghai.

Di level street life, kamu juga bakal nemu toko ikan dan kentang goreng alias fish and chips, gerai KFC, sampai replika Costa Coffee. Memang, beberapa brand ini udah global, tapi kalau ditempatin di setting jalanan ala Inggris, rasanya tetap beda.

Menariknya, seorang YouTuber asal Inggris bernama Ben Morris pernah datang ke Thames Town. Dia bilang, suasana di sana bikin dia merasa kayak lagi pulang kampung. Katanya, kalau bukan karena plat nomor mobil yang semuanya China dan suasana yang berasa lebih aman, dia bisa aja lupa kalau masih ada di Asia.

Menurut Ben juga, Thames Town justru terasa lebih tertata dan enak dipandang dibanding banyak kota di Inggris yang pernah dia datangi. Jadi, buat foto-foto dan jalan santai, tempat ini emang kelihatan niat banget secara visual.

Antara Spot Prewedding Keren dan Julukan Kota Hantu

Nah, di sini mulai kerasa kontrasnya. Di satu sisi, Thames Town jadi spot favorit pasangan Tionghoa buat foto pernikahan. Latar gereja ala Inggris, rumah bergaya Victoria, dan jalan batu bikin hasil foto kelihatan classy banget.

Banyak orang datang ke sana khusus buat cari landscape yang beda dari kota-kota China lain. Untuk urusan estetik, Thames Town jelas aman. Bisa dibilang ini salah satu spot foto yang vibes-nya Eropa tapi masih dalam satu negara.

Di sisi lain, kawasan ini juga sering disebut sebagai “kota hantu”. Bukan dalam arti horor yang penuh cerita mistis, tapi lebih ke suasana sepi karena banyak rumah dan bangunan yang kosong.

Sebagian besar properti di sana dilaporkan kosong atau cuma dipakai sebagai rumah liburan. Artinya, kehidupan sehari-hari kayak di lingkungan normal—warung kecil, tetangga ngobrol, anak-anak main—nggak terlalu kelihatan.

Padahal, misi awal pembangunan Thames Town cukup idealis, yaitu buat membantu ngurangin masalah perumahan sosial dan kemacetan di Shanghai. Tapi realitanya, banyak unit malah jadi properti investasi atau sekadar latar foto, bukan tempat tinggal aktif.

Itu sebabnya muncul kesan agak surreal: bangunannya rapi, arsitekturnya cantik, tapi suasananya cenderung lengang. Buat sebagian orang, ini seru karena berasa punya satu kota buat sendiri. Namun, buat yang cari interaksi lokal, tempat ini bisa terasa agak hampa.

Kalau dari kacamata traveler, Thames Town bisa dipandang sebagai pelarian singkat dari hiruk pikuk kota besar. Seperti yang dibilang Ben, rasanya kayak escape dari kehidupan Shanghai yang sibuk. Kamu bisa jalan santai di antara bangunan kece tanpa harus nyempil di kerumunan orang.

Namun, di sisi lain, penting juga buat sadar kalau destinasi kayak gini bukan “desa asli” dengan budaya tradisional lokal yang hidup. Ini lebih ke ruang rekreasi dan visual yang dipoles, dengan konteks sosial yang berbeda dari tujuan awalnya.

Pada akhirnya, Thames Town Shanghai cocok buat kamu yang suka eksplor destinasi unik dan agak nyeleneh. Bukan tempat buat menyelam ke budaya Tiongkok tradisional, tapi lebih ke refleksi gimana sebuah kota bisa dirancang meniru identitas negara lain.

Kalau suatu saat kamu lagi ke Shanghai dan pengin ngerasain sensasi “ke Inggris” tanpa keluar dari China, Thames Town bisa aja kamu masukin ke wishlist. Anggap saja ini eksperimen kota bernuansa Inggris versi Asia yang bikin banyak orang mikir ulang soal konsep kota dan tempat tinggal.

Kalimat penutupnya sederhana: kalau kamu suka destinasi yang bikin otak sedikit bingung, Thames Town Shanghai layak buat dilirik, tapi jangan berharap kehidupan lokal yang ramai. Simpan artikel ini sebagai referensi perjalanan berikutnya.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.